Kerja kelompok bersama

Published April 6, 2016 by ruangparaperekacerita

(draft KeikoHasana Fadilya, kelas 3 SDIT Daarul Fataa)

Waktu di sekolah pada pelajaran matematika bu dina meminta untuk kerja kelompok. Adyla kerja kelompok bersama felly,zahra,zhulaika,dan runa mereka mengerjakannya dengan rasa ikhlas. Mereka pun selesai karna tidak banyak bercanda atau pun mengobrol, waktu di kumpulkannya karna sebentar lagi bel istirahat berbunyi bu dina mengucapkan ‘’ayo anak anak kumpulkan tugasnya ini sudah mau bel istirahat ‘’semua murid menjawabnya ‘’iya bu…’’dan juga kata adyla kepada kelompoknya ‘’untung kita sudah selesai’’kata felly’’iya benar juga’’lalu kelompok adyla tertawa’’hahaha…’’

Bel istirahat pun berbunyi semua murid keluar untuk jajan tapi tidak untuk kelompok adyla ternyata semua soal benar dan juga selesainya tidak lama bu dina berbicara’’adyla kamu ikut lomba ya…’’ adyla menjawab’’ok bu…’’ semua temannya yang mendengarnya serentak langsung tertawa baru kali ini adyla bertingkah laku lucu seperti itu kata bu dina ‘’nanti kamu langsung latihan ya… sehabis pulang sekolah’’adyla menjawab ‘’iya bu…,Memang kapan lombanya ??’’ kata bu dina menjawab ’’dua minggu lagi’’ kata adyla ‘’oh…’’

Bel pulang sekolah pun berbunyi adyla langsung menemui bu dina di ruang guru dan adyla mulai berlatih

Waktu lomba adyla tidak gugup karna dia percaya diri ternyata dia juara 1 antarsekolah

Waktu upacara juara juaranya di umumkan ternyata lombanya banyak ada menari,melukis dll termasuk lomba metematika waktu juara matematika di umumkan bahwa adyla juara 1 teman temannya sangat bangga kepada adyla.

GRUP IBU IBU DOYAN NULIS

Published November 16, 2011 by ruangparaperekacerita

Seperti biasa, kalau ada teman yang minta saran tentang menulis cerita, maka saya pun memberi input sebatas kemampuan  saya. Hari ini, sambil membuka FB saya tertarik dengan diskusi tentang majas di grup Ibu Ibu Doyan Nulis, dan dengan spontan saya ingin urun rembuk dengan mengetengahkan kalimat dari Yuni Shara dalam talkshow KTV. “Saya selalu bertemu dengan laki-laki yang salah.”

Kalimat ini bagi saya begitu berpotensi menjadi pembuka kalimat atau kalimat lanjutan atau penutup cerita bahkan juga menjadi inti sebuah cerita.

Saya pun meminta ijin bergabung dengan grup ini, dan rupanya….maaf…itu grup khusus untuk para woman. Mohon maaf ya Ibu-Ibu, saya terpancing untuk urun komentar tadi.

 

salam,

sae

Mengedit Naskah

Published May 4, 2011 by ruangparaperekacerita

Malam ini, 4 Mei 2011, saya kembali menekuni aktivitas lama. Mengedit naskah. Sebuah naskah cerita anak saya terima beberapa hari lalu. Kemudian saya pecah ke dalam 24 kotak di program presentasi power point, plus 4 kotak yang saya asumsikan sebagai cover depan (luar dan dalam) dan cover belakang (juga luar dan dalam)

Naskah sudah saya kirim ulang kepada pengarangnya. Mohon maaf belum bisa di-publish di sini.

Anak-Anak Karbitan

Published May 4, 2011 by ruangparaperekacerita

Yth. Para Orang Tua dan Guru ,

berikut sebuah tulisan menarik yang bisa memperkaya perspektif kita semua.

Anak-anak Karbitan

Oleh Dewi Utama Faizah,
bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas,
Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter divisi dari Indonesian Heritage Foundation.

 

Anak-anak yang Digegas Menjadi Cepat Mekar, Cepat Matang, Cepat Layu…

 Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana mana orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga ke desa. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh tawaran yang menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua …

Captive market! Kondisi diatas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun apabila kita amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di internet dan literatur yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut bagi anak usia dini, maka kita akan terkejut! Saat ini hampir sebagian besar penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan. Di samping ketidak-patutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidak-tahuannya!

 

Anak-Anak Yang Digegas…

Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidak-patutan terhadap anak. Diantaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan intelektual secara dini. Akibatnya bermunculanlah anak-anak ajaib dengan kepintaran intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani akselerasi dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik di dalam dan di luar sekolah.

Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan ini terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker. Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard College walaupun usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya dibidang matematika begitu mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian? James Thurber seorang wartawan terkemuka pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu silam.

Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi pada seorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, dimana seorang Ibu yang bemama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen menyiapkan lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan kognitif anaknya, sejak si anak masih berupa janin. Baru saja bayi itu lahir ibunya telah memperdengarkan suara musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak berbicara dengan mcnggunakan bahasa orang dewasa. Setiap saat sang bayi dikenalkan kartu-kartu bergambar dan kosa kata baru. Hasilnya sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun Edith telah dapat berbicara dengan kalimat sempurna. Di usia 5 tahun Edith telah menyelesaikan membaca Ensiklopedi Britannica. Usia 9 tahun ia membaca enam buah buku dan koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun dia masuk universitas. Ketika usianya menginjak 15 tahun ia menjadi guru matematika di Michigan State University. Aaron Stem berhasil menjadikan Edith anak jenius karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga. Namun khabar Edith selanjutnya juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa. Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa.

Berbeda dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang berhasil mengguncang dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil mereka hanyalah anak-anak biasa yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu. Seperti halnya Einstein yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD. Dia dicap sebagai anak bebal yang suka melamun.

Selama berpuluh-puluh tahun orang begitu yakin bahwa keberhasilan anak di masa depan sangat ditentukan oleh faktor kognitif. Otak memang memiliki kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh karena itu banyak orangtua dan para pendidik tergoda untuk melakukan “Early Childhood Training“. Era pemberdayaan otak mencapai masa keemasannya. Setiap orangtua dan pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang super (Superkids). Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 % bermuatan kognitif yang memfungsikan belahan otak kiri. Sementara fungsi belahan otak kanan hanya mendapat porsi 10% saja. Ketidak-seimbangan dalam memfungsikan ke dua belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah sangat mencolok. Hal ini terjadi sekarang dimana-mana, di Indonesia.

 

“Early Ripe, Early Rot…!”

Gejala ketidak-patutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun 1990 di Amerika. Saat orangtua dan para profesional merasakan pentingnya pendidikan bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua merasa apabila mereka tidak segera mengajarkan anak-anak mereka berhitung, membaca dan menulis sejak dini maka mereka akan kehilangan “peluang emas” bagi anak-anak mereka selanjutnya. Mereka memasukkan anak-anak mereka sesegera mungkin ke Taman Kanak-kanak (Pra Sekolah). Taman Kanak-kanak pun dengan senang hati menerima anak-anak yang masih berusia di bawah usia 4 tahun. Kepada anak-anak ini gurunya membelajarkan membaca dan berhitung secara formal sebagai pemula.

Terjadinya kemajuan radikal dalam pendidikan usia dini di Amerika sudah dirasakan saat Rusia meluncurkan Sputnik pada tahun 1957. Mulailah “Era Headstart” merancah dunia pendidikan. Para akademisi begitu optimis untuk membelajarkan wins dan matematika kepada anak sebanyak dan sebisa mereka (tiada berhingga). Sementara mereka tidak tahu banyak tentang anak, apa yang mereka butuhkan dan inginkan sebagai anak.

Puncak keoptimisan era Headstart diakhiri dengan pernyataan Jerome Bruner, seorang psikolog dari Harvard University yang menulis sebuah buku terkenal “The Process of Education” pada tahun 1990, la menyatakan bahwa kompetensi anak untuk belajar sangat tidak berhingga. Inilah buku suci pendidikan yang mereformasi kurikulum pendidikan di Amerika . “We begin with the hypothesis that any subject can be taught effectively in some intellectually honest way to any child at any stage of development“. Inilah kalimat yang merupakan hipotesis Bruner yang disalah-artikan oleh banyak pendidik, yang akhirnya menjadi bencana! Pendidikan dilaksanakan dengan cara memaksa otak kiri anak sehingga membuat mereka cepat matang dan cepat busuk… early ripe, early rot!

Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga usia SD. Di rumah para orangtua kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu mengajarkan sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman menuliskan kiat-kiat praktis membelajarkan bayi membaca.

Bencana berikutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep “kesiapan-readiness” dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang mendapat banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang “biological limitations on learning‘. Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan intervensi dini dan rangsangan intelektual dini kepada anak agar mereka segera siap belajar apapun.

Tekanan yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di sekolah membuat anak-anak menjadi cepat mekar. Anak-anak menjadi “miniatur orang dewasa “. Lihatlah sekarang, anak-anak itu juga bertingkah polah sebagaimana layaknya orang dewasa. Mereka berpakaian seperti orang dewasa, berlaku pun juga seperti orang dewasa. Di sisi lain media pun merangsang anak untuk cepat mekar terkait dengan musik, buku, film, televisi, dan internet. Lihatlah maraknya program teve yang belum pantas ditonton anak anak yang ditayangkan di pagi atau pun sore hari. Media begitu merangsang keingin-tahuan anak tentang dunia seputar orang dewasa, sebagai seksual promosi yang menyesatkan. Pendek kata media telah memekarkan bahasa, berpikir dan perilaku anak tumbuh kembang secara cepat.

Tapi apakah kita tahu bagaimana tentang emosi dan perasaan anak? Apakah faktor emosi dan perasaan juga dapat digegas untuk dimekarkan seperti halnya kecerdasan? Perasaan dan emosi ternyata memiliki waktu dan ritmenya sendiri yang tidak dapat digegas atau dikarbit. Bisa saja anak terlihat berpenampilan sebagai layaknya orang dewasa, tetapi perasaan mereka tidak seperti orang dewasa. Anak-anak memang terlihat tumbuh cepat di berbagai hal tetapi tidak di semua hal. Tumbuh mekarnya emosi sangat berbeda dengan tumbuh mekarnya kecerdasan (intelektual) anak. Oleh karena perkembangan emosi lebih rumit dan sukar, terkait dengan berbagai keadaan, Cobalah perhatikan, khususnva saat perilaku anak menampilkan gaya “kedewasaan “, sementara perasaannya menangis berteriak sebagai “anak”.

Seperti sebuah lagu popular yang pernah dinyanyikan suara emas seorang anak laki-laki “Heintje” di era tahun 70-an… I’m nobody’s Child;

I’m nobody’s child; I’m nobody’s child;
I’m nobodys child; Just like a flower; I’m growing wild;
No mummy’s kisses and no daddy’s smile;
Nobody’s touched me; I’m nobody’s child …

Dampak berikutnya terjadi … ketika anak memasuki usia remaja. Akibat negatif lainnya dari anak-anak karbitan terlihat ketika ia memasuki usia remaja. Mereka tidak segan segan mempertontonkan berbagai macam perilaku yang tidak patut. Patricia O’Brien menamakannya sebagai “The Shrinking of Childhood“.

“Lu belum tahu ya… bahwa gue telah melakukan segalanya”, begitu pengakuan seorang remaja pria berusia 12 tahun kepada teman-temannya. “Gue tahu apa itu minuman keras, drug, dan seks ” serunya bangga.

Berbagai kasus yang terjadi pada anak-anak karbitan memperlihatkan bagaimana pengaruh tekanan dini pada anak akan menyebabkan berbagai gangguan kepribadian dan emosi pada anak. Oleh karena ketika semua menjadi cepat mekar…. kebutuhan emosi dan sosial anak jadi tak dipedulikan! Sementara anak sendiri membutuhkan waktu untuk tumbuh, untuk belajar dan untuk berkembang, … sebuah proses dalam kehidupannya !

Saat ini terlihat kecenderungan keluarga muda lapisan menengah ke atas yang berkarier di luar rumah tidak memiliki waktu banyak dengan anak-anak mereka. Atau pun jika si ibu berkarier di dalam rumah, ia lebih mengandalkan tenaga “baby sitter” sebagai pengasuh anak-anaknva. Colette Dowling menamakan ibu-ibu muda kelompok ini sebagai “Cinderella Syndrome” yang senang window shopping, ikut arisan, ke salon memanjakan diri, atau menonton telenovela atau buku romantis. Sebagai bentuk ilusi menghindari kehidupan nyata yang mereka jalani.

Kelompok ini akan sangat bangga jika anak-anak mereka bersekolah di lembaga pendidikan yang mahal, ikut berbagai kegiatan kurikuler, ikut berbagai les, dan mengikuti berbagai arena, seperti lomba penyanyi cilik, lomba model ini dan itu. Para orangtua ini juga sangat bangga jika anak-anak mereka superior di segala bidang, bukan hanya di sekolah. Sementara orangtua yang sibuk juga mewakilkan diri mereka kepada baby-sitter terhadap pengasuhan dan pendidikan anak-anak mereka. Tidak jarang para baby-sitter ini mengikuti pendidikan parenting di Lembaga pendidikan eksekutif sebagai wakil dari orang tua.

 

Era SUPERKIDS

Kecenderungan orangtua menjadikan anaknya “be special” daripada “be average or normal” semakin marak terlihat. Orangtua sangat ingin anak-anak mereka menjadi “to excel, to be the best“. Sebetulnya tidak ada yang salah. Namun ketika anak-anak mereka digegas untuk mulai mengikuti berbagai kepentingan orangtua untuk menyuruh anak mereka mengikuti beragam kegiatan, seperti kegiatan mental aritmatik, sempoa, renang, basket, balet, tari balet, piano, biola, melukis, dan banyak lagi lainnya… maka lahirlah anak-anak super—“SUPERKIDS’ “. Cost merawat anak Superkids ini sangat mahal.

Era Superkids berorientasi kepada “Competent Child“. Orangtua saling berkompetisi dalam mendidik anak karena mereka percaya “earlier is better“. Semakin dini dan cepat dalam menginvestasikan beragam pengetahuan ke dalam diri anak mereka, maka itu akan semakin baik. Neil Postman seorang sosiolog Amerika pada tahun 80-an meramalkan bahwa jika anak-anak tercabut dari masa kanak-kanaknya, maka lihatlah… ketika anak anak itu menjadi dewasa, maka ia akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan!

Berbagai Gaya Orang Tua

Kondisi ketidakpatutan dalam memperIakukan anak ini telah melahirkan berbagai gaya orangtua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan “miseducation” terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind (1989) mengelompokkan berbagai gaya orangtua dalam pengasuhan, antara lain:

Gourmet Parents — (ORTU B0RJU)
Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus, mobil mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia, dengan gaya hidup kebarat baratan. Apabila menjadi orangtua maka mereka akan cenderung merawat anak-anaknya seperti halnya merawat karier dan harta mereka. Penuh dengan ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena ingin tahu isu-isu mutakhir tentang cara mengasuh anak. Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya membangun karier, maka “Superkids” merupakan bukti dari kehebatan mereka sebagai orangtua.

Orangtua kelompok ini memakaikan anak-anaknva baju-baju mahal bermerek terkenal, memasukkannya ke dalam program-program eksklusif yang prestisius. Keluar masuk restoran mahal. Usia 3 tahun anak-anak mereka sudah diajak tamasya keliling dunia mendampingi orangtuanya. Jika suatu saat kita melihat sebuah sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai merek mobil terkenal, maka itulah sekolah banyak kelompok orangtua “gourmet ” atau kelompok borju menyekolahkan anak-anaknya.

College Degree Parents — (ORTU INTELEK)
Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah ke atas. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering melibatkan diri dalam barbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya membantu membuat majalah dinding, dan kegiatan ekstra kurikuler lainnya. Mereka percaya pendidikan yang baik merupakan pondasi dari kesuksesan hidup. Terkadang mereka juga tergiur menjadikan anak-anak mereka “Superkids“, apabila si anak memperlihatkan kemampuan akademik yang tinggi. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya ke sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli dengan kondisi sekolah.

Gold Medal Parents — (ORTU SELEBRITIS)
Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan anaknya ke berbagai kompctisi dan gelanggang. Ada gelanggang ilmu pengetahuan seperti Olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini lagi marak di Indonesia. Ada juga gelanggang seni seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih kemenangan dan merijadi “seorang Bintang Sejati “. Sejak dini mereka persiapkan anak-anak mereka menjadi “Sang Juara”, mulai dari juara renang, menyanyi dan melukis hingga None Abang Cilik kelika anak-anak mereka masih berusia TK.

Sebagai ilustrasi, dalam sebuah arena lomba ratu cilik di Padang puluhan anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu di mulainya Lomba Pakaian Adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok, dan acara yang molor menunggu datangnya tokoh anak dari Jakarta . Anak-anak mulai resah, berkeringat, mata memerah karena keringat melelehi mascara anak kecil mereka. Para orangtua masih bersemangat, membujuk anak-anaknya bersabar, mengharapkan acara segera di mulai dan anaknya akan keluar sebagai pemenang sementara pihak penyelenggara mengusir panas dengan berkipas kertas.

Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi kelompok Gold Medal Parents ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an seorang gadis kecil pesenam usia TK mengalami kelainan tulang akibat ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau kasus “bintang cilik” Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup dari dunia glamour masa kanak-kanaknya, kemudian menjadikannya pengguna dan pengedar narkoba hingga menjadi penghuni penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang setelah dewasa hanya menjadi pasien dokter jiwa. Gold Medal Parents menimbulkan banyak bencana pada anak-anak mereka!

Pada tanggal 29 Mei lalu kita saksikan di TV bagaimana bintang cilik “Joshua” yang bintangnya mulai meredup dan mengkhawatirkan orangtuanya. Orangtua Joshua berambisi untuk kembali menjadikan anaknya seorang bintang dengan kembali menggelar konser tunggal. Sebagian dari kita tentu masih ingat bagaimana lucu dan pintarnya. Joshua ketika berumur kurang 3 tahun. Dia muncul di TV sebagai anak ajaib karena dapat menghapal puluhan nama-nama kepala negara. kemudian di usia balitanya dia menjadi penyanyi cilik terkenal. Kita kagum bagaimana seorang bapak yang tamatan SMU dan bekerja di salon dapat membentuk dan menjadikan anaknya seorang “Superkid” — seorang penyanyi sekaligus seorang bintang film….

Do-it Yourself Parents
Merupakan kelompok orangtua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan menyatu dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayanan professional di bidang sosial dan kesehatan, sebagai pekerja sosial di sekolah, di tempat ibadah, di Posyandu dan di perpustakaan. Kelompok ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang tidak begitu mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu kelompok ini juga bemimpi untuk menjadikan anak-anaknya “Superkids” — earlier is better“. Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai lingkungannya. Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang mereka sukai. Kelompok ini merupakan kelompok penyayang binatang, dan mencintai lingkungan hidup yang bersih.

Outward Bound Parents — (ORTU PARANOID)
Untuk orangtua kelompok ini mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka sederhana, agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Jika mereka menyekolahkan anak-anaknya maka mereka lebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat tempat tawuran yang berbahaya. Seperti halnya Do It Yourself Parents, kelompok ini secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan menerima konsep “Superkids” Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang hebat agar dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam marabahaya. Terkadang mereka melatih kecakapan melindungi diri dari bahaya, seperti memasukkan anak-anaknya “Karate, Yudo, Pencak Silat” sejak dini. Ketidak-patutan pemikiran kelompok ini dalam mendidik anak-anaknya adalah bahwa mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah panik dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka pikir akan membawa dampak buruk kepada anak. Akibatnya anak-anak mereka menjadi “steril” dengan lingkungannya.

Prodigy Parents –(ORTU INSTANT)
Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak memiliki pendidikan yang cukup. Mereka cukup berada, narnun tidak berpendidikan yang baik. Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata, hanya sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya.

Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu mereka sangat mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Buku-buku instant dalam mendidik anak sangat mereka sukai. Misalnya buku tentang “Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Membaca” karangan Glenn Doman , atau “Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Matematika” karangan Siegfried, “Berikan Anakmu pemikiran Cemerlang” karangan Therese Engelmann, dan “Kiat-Kiat Mengajarkan Anak Dapat Membaca Dalam Waktu 9 Hari” karangan Sidney Ledson .

Encounter Group Parents — (ORTU NGERUMPI)
Merupakan kelompok orangtua yang memiliki dan menyenangi pergaulan. Mereka terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap (luntang-lantung). Terkadang mereka juga merupakan kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam perkawinannya. Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina hubungan dengan orang lain. Sebagai akibatnya kelompok ini sering melakukan ketidak-patutan dalam mendidik anak-anak dengan berbagai perilaku “gang ngrumpi” yang terkadang mengabaikan anak. Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam kelompoknya sehingga mengabaikan fungsi mereka sebagai orangtua. Atau pun jika mereka memiliki aktivitas di kelompokya lebih berorientasi kepada kepentingan kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan anak-anak mereka sebagai “Superkids” juga sangat diharapkan. Namun banyak dari anak anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan.

Milk and Cookies Parents —(ORTU IDEAL)
Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa kanak-kanak yang bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis. Mereka cenderung menjadi orangtua yang hangat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus. Mereka juga sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan.

Kelompok ini tidak berpeluang menjadi orangtua yang melakukan “miseducation” dalam merawat dan mengasuh anak-anaknva. Mereka memberikan lingkungan yang nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh perhatian, dan tumpahan cinta kasih yang tulus sebagai orang tua.

Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan musik yang disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar segala potensi dirinya. Anak-anak mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah yang menyenangkan. Kehangatan hidup berkeluarga menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias dalam kehidupan belajar. Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang menjalankan tugasnya dengan patut kepada anak-anak mereka. Mereka begitu yakin bahwa anak membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya.

Dengan kata lain mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan sendiri kekuatan didirinya. Bagi mereka setiap anak adalah benar-benar seorang anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik!

“Kamu harus tahu bahwa tiada satu pun yang lebih tinggi, atau lebih kuat, atau lebih baik, atau pun lebih berharga dalam kehidupan nanti daripada kenangan indah terutama kenangan manis di masa kanak-kanak. Kamu mendengar banyak hal tentang pendidikan, namun beberapa hal yang indah, kenangan berharga yang tersimpan sejak kecil adalah mungkin itu pendidikan yang terbaik. Apabila seseorang menyimpan banyak kenangan indah di masa kecilnya, maka kelak seluruh kehidupannya akan terselamatkan. Bahkan apabila hanya ada satu saja kenangan indah yang tersimpan dalam hati kita, maka itulah kenangan yang akan memberikan satu hari untuk keselamatan kita”
(destoyevsky’ s brothers karamoz)

 

Perspektif Sekolah Yang Mengkarbit Anak

Kecenderungan sekolah untuk melakukan pengkarbitan kepada anak didiknya juga terlihat jelas. Hal ini terjadi ketika sekolah berorientasi kepada produk daripada proses pembelajaran. Sekolah terlihat sebagai sebuah “Industri” dengan tawaran-tawaran menarik yang mengabaikan kebutuhan anak. Ada program akselerasi, ada program kelas unggulan. Pekerjaan rumah yang menumpuk. Tugas-tugas dalam bentuk hanya lembaran kerja. Kemudian guru-guru yang sibuk sebagai “operator kurikulum” dan tidak punya waktu mempersiapkan materi ajar karena rangkap tugas sebagai administrator sekolah. Sebagai guru kelas yang mengawasi dan mengajar terkadang lebih dari 40 anak, guru hanya dapat menjadi “pengabar isi buku pelajaran” ketimbang menjalankan fungsi edukatif dalam menfasilitasi pembelajaran. Di saat-saat tertentu sekolah akan menggunakan “mesin-mesin dalam menskor” capaian prestasi yang diperoleh anak setelah diberikan ujian berupa potongan-potongan mata pelajaran.

Anak didik menjadi dimiskinkan dalam menjalani pendidikan di sekolah. Pikiran mereka diforsir untuk menghapalkan atau melakukan tugas-tugas yang tidak mereka butuhkan sebagai anak. Manfaat apa yang mereka peroleh jika guru menyita anak membuat bagan organisasi sebuah birokrasi? Manfaat apa yang dirasakan anak jika mereka diminta membuat PR yang menuliskan susunan kabinet yang ada di pemerintahan? Manfaat apa yang dimiliki anak jika ia disuruh menghapal kalimat-kalimat yang ada di dalam buku pelajaran? Tumpulnya rasa dalam mencerna apa yang dipikirkan oleh otak dengan apa yang direfleksikan dalam sanubari dan perilaku-perilaku keseharian mereka sebagai anak menjadi semakin senjang. Anak-anak tahu banyak tentang pengetahuan yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikan dalam kehidupan nyata.

Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk sekolah… dengan tugas-tugas dan PR yang menumpuk…. Namun sekolah tidak mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah untuk menyongsong kehidupannya! Lihatlah, mereka semua belajar dengan cara yang sama. Membangun 90 % kognitif dengan 10 % afektif.

Paulo Freire mengatakan bahwa sekolah telah melakukan “pedagogy of the oppressed” terhadap anak-anak didiknya. Dimana guru mengajar, anak diajar, guru mengerti semuanya dan anak tidak tahu apa-apa, guru berpikir dan anak dipikirkan, guru berbicara dan anak mendengarkan, guru mendisiplin dan anak didisiplin, guru memilih dan mendesakkan pilihannya dan anak hanya mengikuti, guru bertindak dan anak hanya membayangkan bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi program dan anak menjalaninya begitu saja, guru adalah subjek dan anak adalah objek dari proses pembelajaran (Freire, 1993). Model pembelajaran banking system ini dikritik habis-habisan sebagai masalah kemanusiaan terbesar. Belum lagi persaingan antar sekolah dan persaingan ranking wilayah….

Mengkompetensi Anak — merupakan ” KETIDAKPATUTAN PENDIDIKAN ?”

Anak adalah anugrah Tuhan… sebagai hadiah kepada semesta alam, tetapi citra anak dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasa yang bertanggung-jawab. “(Nature versus Nurture) bagaimana?” Karenanya ada dua pengertian kompetensi. Kompetensi yang datang dari kebutuhan di luar diri anak (direkayasa oleh orang dewasa) atau kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dari dalam diri anak sendiri. Sebagai contoh adalah konsep kompetensi yang dikemukakan oleh John Watson (psikolog) pada tahun 1920 yang mengatakan bahwa bayi dapat ditempa menjadi apapun sesuai kehendak kita sebagai komponen sentral dari konsep kompetensi. Jika bayi-bayi mampu jadi pembelajar, maka mereka juga dapat dibentuk melalui pembelajaran dini.

Kata-kata Watson yang sangat terkenal adalah sebagai berikut : “Give me a dozen healthy infants, well formed and my own special world to bring them up in, and I’ll guarantee you to take any one at random and train him to become any type of specialist I might select — doctor, lawyer, artist, merchant chief and yes, even beggar and thief regardless of his talents, penchants, tendencies, vocations, and race of his ancestors

Pemikiran Watson membuat banyak orang tua melahirkan “intervensi dini” setelah mereka melakukan serangkaian tes Inteligensi kepada anak-anaknya. Ada sebuah kasus kontroversi yang terjadi di Institut New Jersey pada tahun 1979. Dimana guru-guru melakukan serangkaian program tes untuk mengukur “Kecakapan Dasar Minimum (Minimum Basic Skill)” dalam mata pelajaran membaca dan matematika. Hasil dari pelaksanaan program ini dilaporkan kolumnis pendidikan Fred Hechinger kepada New York Times sebagai berikut : “The improvement in those areas were not the result of any magic program or any singular teaching strategy, they were… simply proof that accountability is crucial and that, in the past five years, it has paid off in New Jersey

Juga belajar dari biografi tiga orang tokoh legendaris dunia seperti Eleanor Roosevelt, Albert Einstein dan Thomas Edison, yang diilustrasikan sebagai anak-anak yang bodoh dan mengalami keterlambatan dalam akademik ketika mereka bersekolah di SD kelas rendah, semestinya kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan dini sangat berbahaya jika dibuatkan kompetensi-kompetensi perolehan pengetahuan hanya secara kognitif.

Oleh karena hingga hari ini sekolah belum mampu menjawab dan dapat menampilkan kompetensi emosi sosial anak dalam proses pembelajaran. Pendidikan anak seutuhnya yang terkait dengan berbagai aspek seperti emosi, sosial, kognitif, fisik dan moral belum dapat dikemas dalam pembelajaran di sekolah secara terintegrasi. Sementara pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampu melibatkan berbagai aspek yang dimiliki anak sebagai kompetensi yang beragam dan unik untuk dibelajarkan. Bukan anak dibelajarkan untuk di tes dan di skor saja! Pendidikan sejati bukanlah paket-paket atau kemasan pembelajaran yang berkeping-keping, tetapi bagaimana secara spontan anak dapat terus menerus merawat minat dan keingin-tahuan untuk belajar. Anak mengenali tumbuh kembang yang terjadi secara berkelangsungan dalam kehidupannya. Perilaku keingin-tahuan – “curiosity” inilah yang banyak tercabut dalam sistem persekolahan kita. Akademik Bukanlah Keutuhan Dari Sebuah Pendidikan! “Empty Sacks will never stand upright” — George Eliot

Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif melalui kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara bersamaan, pikiran, hati, fisik, dan jiwa yang dimiliki anak didiknya. Membelajarkan secara serempak pikiran, hati. dan fisik anak akan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah dibutuhkannya peranan guru sebagai pendidik akademik dan pendidik sanubari “karakter”. Dimana mereka mendidik anak menjadi “good and smart“, terang hati dan pikiran

Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan “how learn to learn” pada anak didik mereka. Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada anak didiknya bahwa mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi, dengan berpikir kritis, dan cakap memecahkan masalah hidup yang mereka hadapi sebagai bagian dari proses mental. Pengetahuan yang terbina dengan baik yang melibatkan aspek kognitif dan emosi, akan melahirkan berbagai kreativitas.

Leonardo da Vinci seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya berjam-jam untuk belajar anatomi tubuh manusia. Thomas Edison mengatakan bahwa “Genius is 1 percent inspiration and 99 percent perspiration “. Semangat belajar “encourage” tidak dapat muncul tiba-tiba di diri anak. Perlu proses yang melibatkan hati, kesukaan dan kecintaan belajar. Sementara di sekolah banyak anak patah hati karena gurunya yang tidak mencintai mereka sebagai anak.

Selanjutnya misi sekolah lainnya yang paling fundamental adalah mengalirkan “moral literacy” melalui pendidikan karakter. Kita harus ingat bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Kecerdasan plus karakter inilah tujuan sejati sebuah pendidikan (Martin Luther King, Jr ). lnilah keharmonisan dari pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan, antara kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan yang berguna dengan perbuatan yang baik….

Penutup

Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya untuk menjadikan manusia yang terang hati dan terang pikiran “good and smart” merupakan tugas kita bersama. Melakukan reformasi dalam pendidikan merupakan kerja keras yang mesti dilakukan secara serempak, antara sekolah dan masyarakat, khususnya antara guru dan orangtua. Pendidikan yang ada sekarang ini banyak yang tidak berorientasi kepada kebutuhan anak sehingga tidak dapat memekarkan segala potensi yang dimiliki anak. Atau pun jika ada yang terjadi adalah ketidak-seimbangan yang cenderung memekarkan aspek kognitif dan mengabaikan faktor emosi.

Begitu juga orangtua. Mereka berkecenderungan melakukan training dini kepada anak. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi “SUPERKIDS“. Inilah fenomena yang sedang trend akhir-akhir ini. Inilah juga awal dari lahirnya era anak-anak karbitan! Lihatlah nanti ketika anak-anak karbitan itu menjadi dewasa, maka mereka akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan.

Sumber: http://www.semipalar.net/artikel/artikel35.html

BAGAIMANA CARA [MEREKA] MENULIS CERITA ANAK?

Published April 16, 2011 by ruangparaperekacerita

Ada berbagai pandangan dan pendapat tentang cara menulis atau membuat cerita. Termasuk dalam menulis/membuat cerita anak.

Berikut beberapa pendapat dimaksud (dengan penyuntingan dan penandaan seperlunya), disertai link asal tulisan-tulisan tersebut.

Ingin membaca langsung tulisan mereka?

Silakan klik saja url atau link masing-masing.

 

Salam,

sae

 

PROSES PENULISAN CERITA ANAK

Oleh : Fahri Asiza*

Ketika menulis cerita anak, saya tidak mempermainkan psikologis jiwa mereka, tapi kesosialan mereka yang saya ungkapkan. Lalu bagaimana yang mengokohkan cerita anak saya? Saya padukan dengan jalan kehidupan kecil saya, tapi saya jelmakan diri saya sebagai mereka. Tak ada yang istimewa sebenarnya meskipun awalnya saya adalah seorang penulis cerita anak.

Dan saya tetap memainkan pola yang sama, cerita itu saya biarkan mengalir dan bergerak ke mana saja karena saya tidak jadikan sebuah patokan ke mana tokoh itu harus saya bawa. Jadi sama sekali menurut saya tidak ada yang istimewa dalam proses penulisan cerita saya baik itu cerita remaja, dewasa, (sok) sastra maupun cerita anak.

Hanya saja, saya mendasarinya seperti ini :

Dalam membuat cerita anak, kita harus menggunakan nalar anak-anak untuk mengukur isi cerita tersebut. Tepatkah cerita ini untuk mereka? Pantaskah cerita ini dalam ukuran nalar mereka? Apakah mereka mampu mencerna cerita itu tanpa bantuan orangtua, kakak maupun siapa pun yang usianya lebih tua dari mereka?

Kata-kata yang pas pun harus selektif kita lakukan, agar jangan meracuni jiwa mereka. Tapi adakah ukuran kata-kata yang pas untuk cerita anak?

Saya contohkan : Ada seorang anak yang dibesarkan di jalanan yang begitu keras, yang mendidik dirinya menjadi tokoh yang berantakan. Apakah ada kata-kata yang pas untuk mereka agar tidak meracuni, karena mereka terbiasa hidup di jalanan yang keras yang sudah tentu pembendaharaan kata mereka berlainan dengan anak-anak yang duduk di bangku sekolahan?

Jadi inilah yang harus dipikirkan sebaik-baiknya, agar penjiwaan si tokoh tidak lepas dari latar belakangnya dan kata-kata yang diucapkannya tidak meracuni jiwa anak-anak yang membacanya.

Secara umum, menulis cerita anak lebih sulit dari menulis cerita lainnya, karena banyaknya rambu-rambu yang harus ditaati. Tapi itu pun bukannya sebuah dinding yang tak bisa dilompati.

Secara umum :

1.Pilihlah kata-kata sederhana atau kalimat tunggal

2.Hindarkan penggunaan kata-kata asing

3.Hindarkan pula bahasa yang mengumpat, kasar, sadis, jorok dan sebagainya

4.Tema cerita pun jangan terlalu besar, sajikan yang hanya dapat diterima oleh nalar anak-anak.

Cerita dengan tema apa saja yang cocok untuk anak-anak? Banyak sekali ragamnya, boleh dikatakan tidak terbatas. Untuk menjadi penulis cerita anak-anak yang berhasil, harus banyak melatih diri terutama dalam hal dialog. Amatilah pola pikir mereka, selamilah jiwa mereka ketika membuat cerita untuk mereka.

Pikiran yang lugu, serba ingin tahu, ceplas-ceplos, serba ingin cepat, serba ingin lebih, serba ingin apa adanya, adalah bagian dari pikiran anak-anak. Untuk itu diperlukan pada bagian diri kita, untuk menjadi pengamat anak-anak, atau paling tidak, pengamat buku anak-anak. Dan yang terpenting, usahakan agar anak-anak tidak berpikir seperti seorang tukang sihir, yang sim salabim jadi.

Ada satu yang saya perlu saya ungkapkan di sini. Beberapa teman bertanya, kapan saya menulis, mengapa begitu cepat, kok bisa banyak sekali?

Saya selalu menulis setiap Shubuh hingga pukul enam pagi. Lalu malam saya melakukannya lagi. Dalam satu hari, saya bisa menulis mencapai 30 – 40 halaman ketik 1 spasi. Tapi juga bisa hanya 10 halaman. Dan itu bukan satu patokan buat saya, karena saya tak pernah percaya dengan mood. Jadi saya hanya perlu menulis, menulis dan membiarkan tulisan itu mengalir.

Jadi gagasan utama dalam menulis sebuah cerita :
1.Hilangkan kata takut dalam hal menulis

2.Menulis
3.Menulis
4.Menulis
5.Seterusnya menulis

Salam
*) Fahri Asiza, ayahnya Faldi, suaminya Farra, donatur tetap Rumah Dunia.

(sumber http://rumahdunia.net/wmview.php?ArtID=117 )

 

Berkreativitas dengan Menulis Cerita Anak

Disusun oleh: Kristina Dwi Lestari

Perkembangan psikologi anak memunyai ciri-ciri yang khas dan berbeda dengan perkembangan balita bahkan remaja. Perbedaan tersebut menurut Fawzia Aswin Hadits dalam tulisannya yang berjudul “Psikologi Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar”, meliputi perkembangan fisik, kognitif, bahasa, bahkan perkembangan sosial emosionalnya.

Dalam seminar bertema “Tahap Perkembangan Anak dan Mengenal Cara Belajar Anak”, Dra. Tuti Gunawan menegaskan bahwa kecerdasan anak bisa ditemukan dalam bentuk kecerdasan logis matematis, kecerdasan spasial (ruang), kecerdasan kinetis jasmani, kecerdasan musikal, kecerdasan antarpribadi, kecerdasan interpribadi, dan kecerdasan lingustik seperti membaca, menulis, dan lain sebagainya.

Seorang penulis, baik karya fiksi atau nonfiksi, pada umumnya harus bertanggung jawab akan tulisannya. Pendapat, gagasan, pemikiran, dan perasaannya harus bermanfaat bagi orang lain. Cerita anak adalah cerita yang sederhana, akan tetapi kompleks. Kesederhanaan itu terlihat dalam wacananya yang baku dan berkualitas tinggi, namun tidak ruwet sehingga akan lebih enak dibaca dan komunikatif. Selain untuk membantu daya imajinasi anak, cerita anak juga akan membantu daya kreativitas mereka. Penulis cerita anak harus mengalihkan pola pikir orang dewasa kepada dunia anak-anak. Keberadaan jiwa dan sifat anak-anak yang tersirat dalam sebuah cerita nantinya menjadikan cerita anak tersebut digemari. Berikut hal-hal penting yang perlu diketahui untuk membantu Anda saat akan menulis cerita anak.

POSISI PENULIS CERITA ANAK

Kedudukan penulis, dalam hal ini penulis cerita anak, sangatlah sentral. Hal ini disebabkan karena penulislah yang menulis, menerbitkan, menjual, memilih, membeli, dan menyampaikan kepada anak. Anak-anak hanya disuguhi dan yang bertanggung jawab adalah penulis.

Jika Anda mempunyai ketertarikan untuk menjadi penulis cerita anak, ternyata bakat saja tidaklah cukup. Kegiatan menulis harus diawali dari kesiapan diri kita untuk menulis. Berikut hal penting menurut Titik W.S. (2003: 26) yang harus dimiliki saat Anda menulis cerita anak, di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Bakat
  • Kemauan atau niat
  • Wawasan luas
  • Kaya imajinasi
  • Disiplin
  • Kreatif
  • Persepsi
  • Tangguh, tidak mudah putus asa
  • Menguasai teknik menulis
  • Memahami bahasa, yang berkaitan dengan kemampuan bahasa dalam penguasaan idiom dan kosa kata

 

STRUKTUR BACAAN ANAK

Aspek struktur yang menentukan sebuah bangun cerita anak sesuai pemaparan Riris K.T. Sarumpaet (2003: 111-121), di antaranya adalah sebagai berikut.

 

Alur

Dalam cerita fiksi kita tahu bahwa bangun yang menentukan atau mendasarinya adalah alur. Alurlah yang menentukan sebuah cerita menarik atau tidak. Dan hal penting dari alur ini adalah konflik. Karena konfliklah yang menggerakkan sebuah cerita. Konflik pula yang bisa menyebabkan seseorang menangis, tertawa, marah, senang, jengkel ketika membaca sebuah cerita. Alur cerita anak biasanya dirancang secara kronologis, yang menaungi periode tertentu dan menghubungkan peristiwa-peristiwa dalam periode tertentu. Alur lain yang digunakan adalah sorot balik. Alur sorot balik digunakan penulis untuk menginformasikan peristiwa yang telah terjadi sebelumnya. Biasanya alur sorot balik ini dijumpai pada bacaan anak yang lebih tua dan biasanya akan membingungkan anak-anak di bawah usia sembilan tahun.

Tokoh

Tokoh adalah “pemain” dari sebuah cerita. Tokoh yang digambarkan secara baik dapat menjadi teman, tokoh identifikasi, atau bahkan menjadi orang tua sementara bagi pembaca. Peristiwa tak akan menarik bagi anak, jika tokoh yang digambarkan dalam cerita tidak mereka gandrungi. Hal penting dalam memahami tokoh adalah penokohan yang berkaitan dengan cara penulis dalam membantu pembaca untuk mengenal tokoh tersebut. Hal ini terlihat dari penggambaran secara fisik tokoh serta kepribadiannya. Aspek lain adalah perkembangan tokoh. Perkembangan tokoh menunjuk pada perubahan baik atau buruk yang dijalani tokoh dalam cerita-cerita.

Latar

Waktu yang menunjukkan kapan sebuah cerita terjadi dan tempat di mana cerita itu terjadi menunjukkan latar sebuah cerita. Misalnya dalam cerita kesejarahan, penciptaan waktu yang otentik ini sangatlah penting untuk memahami sebuah cerita.

 

Tema

Tema sebuah cerita adalah makna yang tersembunyi. Tema mencakup moral atau pesan/amanat cerita. Tema bagi cerita anak haruslah yang perlu dan baik bagi mereka. Ia harus mampu menerjemahkan kebenaran. Hal penting yang perlu kita perhatikan juga, bahwa tema jangan mengalahkan alur dan tokoh-tokoh cerita. Tentu saja buku yang ditulis dengan baik akan menyampaikan pesan moral, tetapi juga harus bercerita tentang sesuatu, dari mana pesan itu mengalir. Dengan cara itu, tema disampaikan kepada anak secara tersamar.

Jadi, jika nilai moral hendak disampaikan pada anak, tema harus terjahit dalam bahan cerita yang kuat. Dengan demikian, anak dapat membangun pengertian baik atau buruk tanpa merasa diindoktrinasi.

 

Gaya

Bagaimana penulis mengisahkan dalam tulisan itulah yang disebut dengan gaya. Aspek yang digunakan untuk menelaah gaya dalam sebuah cerita fiksi adalah pilihan kata. Apakah panjang atau pendek, biasa atau tidak, membosankan atau menggairahkan. Kata-kata yang digunakan haruslah tepat dengan cerita itu. Karena kita tahu bahwa pilihan kata akan menimbulkan efek tertentu.

Hal lain adalah masalah kalimat. Kalimat dalam cerita anak-anak haruslah lugas, tidak bertele-tele, dan tidak harus menggunakan kalimat tunggal. Kita bisa menggunakan kalimat kompleks asalkan logis dan langsung mengarah kepada apa yang ingin disampaikan.

Beberapa prinsip dalam menulis cerita anak yang diuraikan di atas kiranya semakin membantu Anda dalam mengembangkan kreativitas yang dimiliki untuk menulis sebuah cerita anak. Sebuah cerita yang syarat pesan moral bagi anak tanpa harus menggurui mereka, dan mampu mengintregasikan elemen di atas dalam jalinan cerita yang menyenangkan. Selamat berkreativitas lewat cerita anak.

 

Sumber Bacaan

Gunawan, Tuti. 2007. Makalah dalam seminar “Tahap Perkembangan Anak dan Mengenal Cara Belajar Anak”.

Hadits, Fawzia Aswin. 2003. Psikologi Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar, dalam “Teknik Menulis Cerita Anak”. Yogyakarta: Pink Books, Pusbuk, dan Taman Melati.

S., Titik W. 2003. Menulis, dalam “Teknik Menulis Cerita Anak”. Yogyakarta: Pink Books, Pusbuk, dan Taman Melati.

Sarumpaet, Riris K. Toha. 2003. Struktur Bacaan Anak, dalam “Teknik Menulis Cerita Anak”. Yogyakarta: Pink Books, Pusbuk, dan Taman Melati.

(http://pelitaku.sabda.org/berkreativitas_dengan_menulis_cerita_anak )

Menulis Cerita Anak

Oleh: Raka Sukma Kurnia

Menulis cerita anak bisa dibilang gampang-gampang susah. Keluasan kosakata yang dimiliki orang dewasa, apalagi yang memiliki wawasan luas belum menjamin cerita yang disajikan akan mengena pada anak-anak. Juga tidak cukup hanya dengan menghadirkan cerita-cerita fantasi dari negeri dongeng. Tidak pula hanya dengan “pada zaman dahulu kala” atau “pada suatu ketika” dan frasa-frasa sejenisnya.

Meskipun ditujukan untuk anak-anak, kita tetap perlu mengetahui beberapa aspek penting yang perlu dipersiapkan sebelum mulai menulis.

  1. Aspek nilai moral

Aspek ini penting dalam cerita anak. Sebuah cerita anak yang tidak disertai nilai moral apa pun akan menjadi sebuah cerita yang tidak bernilai. Oleh karena itu, kita harus menentukan nilai moral yang hendak disampaikan dalam cerita. Berkenaan dengan nilai moral, dua hal berikut ini perlu diperhitungkan.

    1. Pertama-tama, tentukanlah nilai moral utama yang hendak disampaikan. Penentuan ini perlu dilakukan sebelum kita mulai menulis cerita.

Tujuannya, agar cerita yang ditulis tidak berakhir dengan tidak bernilai sama sekali.

Menulis sambil mengalir memang tidak menutup kemungkinan terbangunnya nilai moral tertentu. Akan tetapi, cerita yang dihasilkan bisa tidak memiliki nilai utama. Padahal nilai utama inilah yang penting disampaikan.

    1. Setelah nilai utama ditentukan, jabarkan pula nilai-nilai moral pendukung. Hal ini tidak mutlak ditentukan sebelum penulisan; bisa saja dilakukan sembari menulis. Untuk itu, gunakan nilai moral utama itu sebagai panduan sehingga keseluruhan cerita menghadirkan nilai-nilai moral yang saling terkait satu dengan lainnya.

Anggaplah kita hendak menyajikan pesan moral “belajar itu penting”. Nilai-nilai moral pendukung di seputarnya bisa saja berupa “belajar dari buku akan membuka wawasan”, “koleksi buku bisa menjadi langkah membangun perpustakaan pribadi”, “belajar dari alam membawa pengenalan yang lebih dekat pada alam”, dan lain-lain. Penyajiannya bisa diarahkan ke arah keberhasilan (positif) atau kegagalan (negatif), tergantung penekanannya.

  1. Aspek struktur cerita

Sebagaimana dikemukakan Korrie Layun Rampan (lihat artikel pertama), struktur cerita anak tidak berbeda jauh dengan struktur fiksi dewasa. Oleh karena itu, susun bangun cerita mulai dari tema, alur, penokohan, latar, dan gaya harus terkandung pula dalam cerita anak yang hendak disajikan.

    1. Umumnya, tema tidak terlalu berbeda jauh dengan nilai moral utama cerita. Karena sebelumnya kita telah menentukan nilai tersebut, penentuan tema dapat dianggap telah kita lakukan.
    2. Alur yang paling sederhana ialah alur maju. Alur seperti ini dapat digunakan untuk menghadirkan cerita anak yang pendek. Bila berminat menulis cerita yang panjang, variasi alur dapat dilakukan sepanjang kita masih mampu menjaga konsistensi penyampaian cerita.
    3. Ada baiknya merinci karakter-karakter yang akan disertakan dalam cerita, baik itu tokoh protagonis, maupun antagonis. Pada tahap ini, kita bisa sekaligus menentukan nama-nama tokoh tersebut. Rincian karakter tokoh akan membantu kita untuk konsisten ketika mulai menulis cerita.
    4. Latar merupakan bagian yang juga menentukan dalam cerita. Untuk itu, kita perlu memerhatikan kaitan antara latar waktu dengan tempat. Suasana menjelang malam, misalnya, bisa dilengkapi dengan nuansa yang mulai menggelap, warna langit yang memerah di ufuk barat, lampu-lampu yang mulai dinyalakan, dan nuansa-nuansa lainnya.
    5. Unsur gaya berkenaan dengan bagaimana menyampaikan cerita. Termasuk di sini urusan pilihan kata dan kalimat. Untuk kedua hal ini, sebaiknya gunakan pilihan kata yang cocok untuk anak-anak — gunakan kata-kata konkret daripada abstrak; kalimat yang digunakan juga sebaiknya kalimat-kalimat sederhana yang mudah dipahami. Di sini pulalah kita harus tentukan, hendak menggunakan sudut pandang mana dalam cerita yang kita tulis. Yang jelas, kita harus konsisten dalam menggunakan sudut pandang, apakah hendak memakai sudut pandang orang pertama atau ketiga.
  1. Aspek kerangka cerita

Setelah menentukan seperti apa struktur dari cerita yang hendak ditulis, kini saatnya kita menuangkan ide-ide kita dalam kerangka karangan. Susunlah kerangka karangan sejelas-jelasnya.

Kerangka karangan yang hanya terdiri dari beberapa kata bisa menyulitkan. Meski pada dasarnya tidak mutlak, ada baiknya menyusun kerangka dengan satu atau dua kalimat sehingga ketika hendak menjabarkannya, kita tidak kebingungan.

 

Aspek bahasa

Karena cerita yang akan kita tulis adalah cerita anak, kita harus lebih memerhatikan penggunaan bahasa dalam cerita. Itulah sebabnya, pengetahuan luas tidak akan berguna kecuali disertai dengan kemampuan menerjemahkan kalimat menjadi bahasa yang mudah dimengerti anak-anak. Aspek ini jelas berkaitan dengan unsur kelima dari cerita, yaitu gaya.

Ada baiknya kita mengikuti saran-saran praktis Sumardi (Bagaimana Menciptakan Cerita Anak yang Unggul? dalam “Teknik Menulis Cerita Anak, hlm. 150-151) berikut.

    1. Setiap kali akan menggunakan kata, istilah, dan ungkapan yang khusus, hendaknya diuji dengan sebuah pertanyaan, “Apakah anak- anak mengerti dengan kata, istilah, atau ungkapan ini?”
    2. Hindari penggunaan kalimat yang ruwet. Kalimat yang ruwet biasanya diakibatkan struktur yang salah atau gagasan yang dikemukakan terlalu banyak sehingga sulit ditata.
    3. Hindari kalimat yang terlalu panjang. Kalimat seperti itu biasanya mengandung bagian atau anak kalimat dan keterangan yang terlalu banyak. Sebaiknya, gunakan kalimat yang hanya terdiri dari dua bagian, induk dan anak kalimat.
  1. Aspek referensi

Aspek ini merupakan aspek penting dalam suatu penyajian cerita anak. Sebelum mulai menulis cerita, selain memikirkan keempat aspek sebelumnya, kita harus memiliki bahan-bahan pengaya cerita terlebih dahulu. Bahan-bahan pengaya ini bisa disebut sebagai bahan referensi. Bahan-bahan ini tidak hanya akan memperkaya penceritaan kita nantinya, tapi juga membantu kita dalam menghadirkan fakta-fakta umum.

Apa saja sumber-sumber referensi yang bisa kita gunakan untuk menulis cerita anak? Ada beberapa yang bisa kita manfaatkan, yaitu:

    1. film anak-anak;
    2. buku cerita anak-anak;
    3. buku pelajaran anak;
    4. buku ensiklopedia;
    5. alam sekitar.

Kelima aspek di atas kiranya membantu Anda dalam menyajikan sebuah cerita anak yang baik. Selamat berkarya.

(http://pelitaku.sabda.org/menulis_cerita_anak )

 

Panduan Penulisan Cerita Anak

 

Apa itu cerita anak?

Cerita yang ditujukan untuk anak-anak yang berusia antara 3 – 18 tahun. Cerita yang bagus bisa dinikmati para pembaca dengan rentang usia yang luas. Cerita anak ini juga berupa puisi panjang yang mudah dipahami anak.

 

Apa tema cerita anak?

Tidak ada tema tertentu. Anda bisa menuliskan cerita dengan tema apapun.

 

Bagaimana cerita anak yang diharapkan?

Cerita yang mendidik, cerita mengandung salah satu ciri di bawah ini:

  1. Interaktif: Mendidik anak aktif
  2. Atraktif: Memudahkan anak fokus
  3. Optimisme: Membangun semangat anak
  4. Imajinatif: Memicu anak berimajinasi
  5. Kreatif: Melahirkan solusi kreatif anak

 

Bagaimana cerita bisa mendidik anak?

Cerita yang baik mendidik anak melalui serangkaian pengalaman yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam cerita. Perilaku dan interaksi tokoh dalam cerita akan menjadi cermin bagi anak. Sebisa mungkin tidak menyampaikan nilai moral melalui perkataan secara eksplisit karena akan menimbulkan kesan menggurui.

Anak juga akan belajar dari pembelajaran yang dialami oleh tokoh dalam cerita. Sangat mungkin seorang tokoh dalam cerita mengalami beberapa pembelajaran, tetapi jangan terlalu banyak karena akan menjadi “berat” bagi anak.

 

Apa cerita yang tidak diperbolehkan?

Cerita yang mengandung salah satu item berikut ini:

  1. Diskriminatif. Cerita tidak boleh menceritakan sikap tidak menghargai atas keragaman geografis, sosial, ekonomi, budaya dan agama.
  2. Pornografi. Cerita tidak boleh menceritakan adegan yang berkaitan dengan aktivitas sexual secara vulgar.
  3. Kekerasan. Cerita tidak boleh menyatakan kekerasan baik fisik maupun kata-kata kasar.
  4. Plot mistis. Cerita yang menceritakan tokoh dalam cerita bisa selamat atau celaka karena kekuatan mistis. Cerita yang tidak memberdayakan anak.

 

Bagaimana saya tahu bahwa cerita saya mendidik?

Bebaskan diri Anda dalam menulis. Setelah selesai, Anda bisa mengkaji cerita dengan mengenali komponen berikut ini:

  1. Apakah ada tantangan atau krisis yang dihadapi oleh tokoh dalam cerita?
  2. Apakah diceritakan bagaimana tokoh belajar mengembangkan keterampilan untuk mengatasi krisis atau tantangan itu?
  3. Apakah diceritakan bagaimana tokoh utama mendapat inspirasi untuk melakukan proses pembelajaran itu?

(Sumber http://blog.indonesiabercerita.org/?p=112)

// #1 Mulai dari Pengalaman Pribadi

Banyak yang bertanya, bagaimana cara memulai menulis cerita anak yang mudah? Tentu saja tidak ada yang mudah jika kita tidak memulai dan berusaha. Juga tidak ada yang sulit ketika kita sudah memulai dan berusaha.

Untuk menulis cerita anak, yang termudah adalah coba tuliskan pengalaman yang pernah kita alami di masa anak-anak. Bisa pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain (teman sebangku, teman sekelas, teman tetangga, teman les, sepupu, atau siapapun yang ada di sekitar kita).

Tentunya kita harus memilih peristiwa yang menarik untuk dituliskan. Peristiwa menarik adalah bukan peristiwa biasa yang semua orang pasti mengalami, melihat atau merasakan. Peristiwa menarik juga bukan peristiwa yang sudah sering diceritakan banyak orang.

Cobalah susun beberapa peristiwa menarik itu, lalu saring dengan beberapa kriteria, misalnya: peristiwa yang menyedihkan/mengharukan, peristiwa yang menggelikan/lucu, peristiwa menegangkan/menakutkan, dan sebagainya.

Jika kita akhirnya menemukan peristiwa yang paling menarik dari berbagai kriteria itu, cobalah tuliskan apa adanya. Setelah selesai, coba dibaca berulang kali. Jika kita merasa bosan, maka bayangkan orang lain akan tiga kali lebih bosan dari kita. Artinya kita harus menambahkan bumbu agar peristiwa yang menarik itu menjadi sebuah cerita yang tidak membosankan. Tentu saja bumbu yang pas.

Teruslah untuk melewati tahap ini. Coba terus menulis berdasarkan pengalaman pribadi, karena jauh lebih mudah untuk seorang pemula ketimbang bereksplorasi dengan imajinasi.

// #2 Bahasa yang Jernih

Bahasa adalah kaca pada jendela. Ide dan cerita adalah pemandangan di luar sana. Jika kita menulis dengan bahasa yang rumit dan berbelit, pembaca tidak bisa menikmati ide dan cerita yang kita tulis. Maka, teruslah berlatih menulis untuk mencapai tingkat yang baik dalam berbahasa, khususnya bahasa tulis.

 

Cara lain agar kemampuan bahasa tulis kita meningkat adalah memperbanyak kuantitas bacaan. Semakin banyak membaca, kian banyak pula kosakata yang kita serap. Dengan melatihnya dalam penulisan, akan semakin meningkat pula kemampuan kita dalam menata diksi.

Diksi bukan hanya sekadar untuk memilih kata yang tepat. Diksi juga bisa memperjelas ide. Bahkan, diksi juga bisa kita pakai untuk memperindah cerita. Jadi, perkaya terus perbendaharaan kata yang kita miliki dan praktikan dalam menulis.

Jangan ragu untuk menulis dengan keragaman diksi. Anak-anak pun perlu kita tulari dengan beragam kosakata. Jangan remehkan kemampuan menyerap bahasa anak-anak. Sepanjang kita meletakkannya pada kalimat yang benar dan konteks yang tepat, kosakata yang jarang digunakan pun bisa dimengerti oleh mereka.

#3 Karakter Harus Kuat

Saat menyusun cerita, yakinkan bahwa karakter/tokoh dalam cerita kita itu sangat kuat sehingga akan tertanam di kepala pembaca. Tonjolkan hal yang paling menarik dari karakter cerita kita. Bukan sekadar dia duduk di kelas lima SD, rambutnya dikepang. Atau dia anak kedua dari tiga bersaudara yang pintar.

Coba ingat alasan kita terus mengenal Pippi Longstocking, Georgina/George Lima sekawan, Lupus, Pinokio, Harry Potter …. Mereka semua berbeda dari karakter umumnya. Ya, penulisnya bisa menonjolkan keunikan dari karakter yang mereka ciptakan. Sehingga orang bisa jadi lupa pada ceritanya, tapi mengingat terus karakter tersebut.

Kekuatan karakter bisa kita angkat dari berbagai sisi, seperti fisik, kebiasaan, hobi, kesukaan, keahlian, atau bahkan kekurangan. Jika tidak percaya, cobalah ingat beberapa teman lama kita. Biasanya yang menarik perhatian adalah yang berbeda dengan lainnya. Kita bisa memindahkan keunikan yang dimiliki orang-orang di sekitar kita ke karakter cerita kita. Saya sarankan hal ini karena kita akan lebih mudah mengembangkan karakternya karena memang ada modelnya.

Cobalah bermain dengan berbagai karakter yang unik. Biasakan untuk membentuk karakter yang beragam di setiap cerita yang kita tulis. Sekali lagi, kekuatan karakter akan membentuk kekuatan cerita kita secara keseluruhan.

( sumber http://kelascernak.blogspot.com/2007_06_01_archive.html )

 

 

BAGAIMANA MENULIS CERITA ANAK?

Monday, 27 April 2009 (10:15) | 432 views | 3 komentar

Oleh Sardono Syarief

Dewasa ini sering kita saksikan perilaku buruk anak di hadapan orang lain. Tak sedikit dari mereka yang bersikap tidak sopan terhadap orang tua maupun guru. Kekurangsopanan mereka di antaranya adalah; tak mau bertegur sapa kepada orang yang pernah dikenal, jalan bahkan lari di hadapan orang tua yang sedang berdiri-tanpa minta permisi, makan sambil melenggang di jalan umum, tidak menempatkan unggah-ungguh dalam memberikan sapaan, seperti menyapa orang yang lebih tua hanya namanya saja, dan masih banyak contoh lain yang kurang enak didengar.

Penyimpangan sikap dan perilaku ini tentu saja terbentuk dari lingkungan pergaulan mereka sehari-hari. Lingkungan yang tak pernah menanamkan sikap dan perilaku baik, mana mungkin menghasilkan buah yang baik? Sebaliknya, lingkungan yang selalu menghadirkan pengaruh sikap positif, besar kemungkinan membuahkan hasil yang positif pula. Untuk dapat mengubah perilaku agar anak-anak bisa bersikap positif sebagaimana yang kita harapkan, ternyata dongeng atau cerita anak memiliki peran cukup penting.

Cerita anak maupun dongeng ternyata dapat dimanfaatkan juga oleh orang tua atau guru sebagai salah satu media untuk menanamkan budi pekerti pada anak. Penyampaiannya bisa secara lisan di tengah-tengah keluarga atau di depan kelas oleh guru. Demikian pula bisa disampaikan secara tertulis, misal lewat buku, majalah, ataupun koran.

Sekarang, tinggal bagaimana cara yang bisa kita tempuh apabila kita ingin menyampaikannya lewat bahasa tulis?

Nah, agar kita bisa menghadirkan dongeng atau cerita anak dengan bahasa tulis, sedikitnya ada 5 (lima ) unsur yang perlu kita persiapkan, yaitu:

  1. Tema, yaitu pokok masalah yang ingin kita sampaikan kepada anak. Bisa masalah budi pekerti, pentingnya persahabatan, petualangan, pendidikan, kedisiplinan, kerajinan, dan masalah-masalah yang lain.
  2. Tokoh, yaitu pelaku dalam sebuah cerita. Pelaku ada dua kelompok. Pelaku utama dan pelaku musuh. Dalam sebuah cerita, pelaku utama sering disebut lakon atau protagonis. Sedangkan pelaku musuh, sering diistilahkan lawan atau antagonis.

Untuk menulis sebuah cerita, kedua macam pelaku tersebut harus kita hadirkan. Biasanya, pelaku utama (protagonis), akan selalu dimenangkan. Sebaliknya, pelaku musuh (antagonis), akan berakhir kalah.

  1. Alur, yaitu jalan cerita dari awal hingga akhir. Alur sering disebut juga plot cerita. Alur dapat menggambarkan atau merangkai cerita dari awal sampai akhir dengan manis dan enak dibaca.

Ibarat naik sepeda motor, jalan yang kita tempuh itulah alurnya. Jika jalan tersebut lurus, halus dan tak berbelok-belok, tentu kita akan merasakan nyaman dalam berkendara. Sebaliknya, bila jalan tersebut banyak liku dan berlubang, tentu kita merasakannya tak enak di badan.

Demikian pula alur atau jalan cerita. Jika kita merangkai cerita pada alur yang lurus, alur yang mudah dipahami arahnya, maka pembaca tentu akan berkomentar; ini cerita bagus! Atau ini cerita jelek, karena sulit dipahami arah alur ceritanya.

  1. Latar, yaitu ruang dan waktu serta suasana lingkungan tempat cerita bergerak, menyatu dengan tema, tokoh, maupun alur ceritanya. Latar sering disebut setting cerita. Latar juga sering dikatakan sebagai tempat cerita itu terjadi. Apakah di pegunungan, di tepi pantai, di kota besar, di dalam rumah, di sekolah, atau di tempat-tempat lain yang sesuai dengan tema cerita.
  2. Gaya, yaitu cara atau teknik pengarang dalam menulis atau menyampaikan cerita. Kita bisa menulis cerita dengan gaya humor, serius, santai, dan semacamnya menurut teknik yang kita inginkan. Satu hal yang perlu kiga ingat! Jangan sekali-sekali menulis dengan gaya menggurui pembaca. Sebab meskipun masih kecil, anak-anak tidak mau dianggap selamanya bodoh.

Sumber : Sardono Syarief

dalam BAGAIMANA MENULIS CERITA ANAK? | Agupena Jawa Tengah http://agupenajateng.net/2009/04/27/bagaimana-menulis-cerita-anak/#ixzz1JeCDSVKB

Bagaimana Saya Menulis Cerita Anak
Mengapa Saya Menulis Cerita Anak?

Awalnya karena saya suka membaca. Saat saya kecil, orangtua saya menyediakan saya beberapa jenis bacaan, seperti Majalah Bobo, komik-komik Nabi, dan majalah-majalah lain. Namun majalah Bobo lah yang paling banyak memengaruhi saya.

Saya senang melihat gambar rumah Bobo yang sangat nyaman. Saya membayangkan betapa senangnya tinggal di sana, dan mengalami banyak hal-hal lucu. Ada Bobo yang cerdik, Bibi Tutup Pintu yang gemar berseru,”Tutup pintu!”, Coreng yang gemar menggambar, Tut Tut yang suka main kereta api, dan Paman Gembul yang suka makan wortel.

Di majalah Bobo pula, saya berkenalan dengan dua hewan yang bersahabat. Persahabatan mereka sangat menyentuh hati. Rong Rong kucing dan Bona gajah kecil berbelalai panjang. Belalainya bisa disulap menjadi apa saja, untuk menolong orang-orang di sekitarnya.

Ada juga kisah Negeri Dongeng yang gambarnya luar biasa indah. Kisah-kisahnya sungguh membawa kita bertualang ke dunia dongeng. Bersama Nirmala dan Oki, kita melihat permadani terbang, kuda sembrani bersayap emas, kunjungan ke angkasa dan dasar laut, bertemu makhluk-makhluk ajaib, melihat pabrik pelangi. Sangat imajinatif.

Membaca petualangan Deni Manusia Ikan pun sangat menggemaskan dan menegangkan.Hati bertanya-tanya, kapankah Deni bertemu orang tuanya? Kapankah makhluk setengah ikan itu mendapatkan kebahagiaan yang dicarinya?

 

Cerpencerpen dan dongeng-dongengnya pun bagus. Banyak di antara cerita itu yang menggambarkan kebaikan hati, kesabaran, dan ketabahan tokoh-tokohnya dalam menjalani hidup yang sulit, atau dalam memperjuangkan sesuatu. Cerita-cerita itu mengalir saja. Mengilhami dan mengingatkan kita untuk selalu berbuat baik, dan tidak menyerah dalam mencapai sesuatu.

Semua tulisan itu sangat berkesan buat saya. Saya pun jadi ingin menulis cerita anak. Karena saya pun memiliki sesuatu yang ingin dibagi. Baik itu ide cerita yang ada di benak saya atau pun pengalaman sehari-hari. Itulah awal saya menulis cerita anak.

Saya pun mulai menulis. Namun cerita-cerita itu hanya saya simpan. Bertahun-tahun kemudian, saat saya kuliah di jurusan jurnalistik, saya mencoba mengirim karya-karya saya, termasuk karya yang saya tulis sejak kecil. Saya mencoba mengirimnya ke berbagai media yang memuat cerita anak, termasuk Bobo. Sebagian di antara cerita-cerita itu ada yang dimuat, sebagian lagi dikembalikan atau tidak ada kabarnya.

Banyak orang yang berjasa, sehingga saya punya keberanian untuk terus menulis. Hampir semuanya saya kenal saat saya masih kuliah. Ada Benny Rhamdani, teman saya sewaktu di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad. Melihatnya rajin menulis dan menceritakan pengalamannya menulis, saya pun jadi ingin rajin menulis seperti dirinya.

Ada Bapak Isman Santosa, editor cerita anak dari Majalah Bobo. Beliau rajinmengembalikan karya-karya saya yang tidak bisa dimuat dan memberi catatan-catatan untuk perbaikan. Ada Bapak Soekanto SA yang saat itu editor Gaya Favorit Press. Saya bertemu Pak Soekanto saat menyerahkan naskah. Sayangnya, naskah itu belum bisa dimuat. Dan Pak Soekanto beberapa kali mengirim buku-buku terbitan Gaya Favorit Press, disertai catatan, buku seperti inilah yang bisa dimuat. Mungkin banyak lagi orang yang berjasa, sehingga saya senang menulis. Dan saya sangat berterima kasih pada mereka.

Sampai saat ini saya sudah menulis sekitar 250-an cerita anak (cerpen, dongeng, cergam, dan komik). Karya-karya tersebut sudah dimuat di Majalah Bobo, Ananda, Suara Pembaruan, Bocil, Mombi, dan Kompas Anak. Saya juga sudah menulis 31 buku cerita anak. Dan saya sangat berharap, saya bisa menulis lebih banyak lagi cerita anak. Cerita-cerita yang lebih bagus dari yang pernah saya tulis sebelumnya. Karena sampai saat ini pun saya masih terus belajar menulis cerita anak yang baik.

Respon atau feedback dari pembaca buat saya sangat penting. Itu setidaknya memberi gambaran pada saya, apakah cerita-cerita yang saya tulis bisa menyentuh hati pembacanya atau tidak. Misalnya ada dua ibu yang bercerita pada saya, bahwa anaknya setiap malam ingin dibacakan buku The Dancing Fishes (Ikan-Ikan Penari). Ada juga seorang ibu yang bercerita, setiap malam sebelum tidur, anaknya berpura-pura menjadi tokoh Ringrang sambil berguling-guling. Anak itu mengatakan, “I dont want to swim, I don’t want to swim!” persis berang-berang yang ada di buku Ringrang is Afraid to Swim (Ringrang Takut Berenang). Ada juga anak yang mengirim e-mail pada saya, menanyakan apakah lumba-lumba pelangi itu benar-benar ada? Anak itu senang lumba-lumba dan sudah membaca semua hal tentang lumba-lumba, tapi tak mendapati tulisan tentang lumba-lumba pelangi seperti yang ada dalam buku Lumba-Lumba Pelangi Terakhir.

Ada juga kritik yang dilontarkan seorang bapak pada saya, katanya cerita-cerita kurang action yang seru.
Apa pun bentuk feedback,  pujian atau kritik, menurut saya akan sangat berguna bagi kemajuan seorang penulis.
Perlu saya katakan di sini, saya bukan ahli bacaan anak, saya juga bukan pengamat bacaan anak. Saya adalah orang yang senang menulis cerita anak, dan kebetulan bekerja di media anak (Majalah Kreativitas Mombi). Di halaman-halaman berikut, saya akan memaparkan tentang pengalaman saya menulis. Mudah-mudahan bermanfaat bagi para penulis, terutama yang akan mulai menulis cerita anak.

 

Dari Mana Ide Berasal?

Ide itu itu bisa didapat dari mana-mana. Ada yang mengatakan, ide bisa didapatkan melalui bacaan, pendengaran, perasaan, penglihatan, dan pengamatan. Ide bisa didapatkan ketika membaca koran, buku, dan majalah. Ide bisa didapat saat menonton televisi, melihat pemandangan, bertemu dan berbicara dengan orang lain. Ide juga bisa didapat dari apa yang sedang kita rasakan, seperti sedih, marah, jengkel atau gelisah.

Itu memang benar. Saya mendapat ide saat melihat suatu peristiwa, mengobrol, menonton, dan jalan-jalan. Tapi membaca pun menyumbang sangat banyak ide. Membaca buku ilmu pengetahuan, membaca koran, membaca cerita anak. Bahkan melihat ilustrasi cerita anak yang bagus pun bisa mendapat ide baru, yang sama sekali berbeda dengan cerita yang dibaca tersebut.

Saya akan sedikit menceritakan bagaimana saya mendapat ide untuk beberapa buku cerita anak.

 

Buku Jojo, The Green-Pencil-Tailed Gecko (Jojo, Tokek Berekor Pensil Warna) menceritakan tentang sekelompok tokek yang berekor pensil warna. Mereka adalah tokek yang senang berkelompok dan gemar menggambar. Sampai akhirnya timbul masalah saat Jojo, tokek berekor pensil warna hijau, merasa menjadi tokek yang paling penting. Saya mendapat ide cerita itu saat melihat cecak berlari di dinding. Cecak itu ekornya telah putus, dan sedang tumbuh ekor baru yang belum sempurna, sehingga bentuk ekornya seperti pensil. Saat itu saya bepikir, bagaimana ya kalau cecak mempunyai ekor pensil warna? Lalu ide pun berkembang menjadi sebuah cerita.

Buku Air, Selamat Datang! Menceritakan tentang seorang anak kecil yang menyadari betapa pentingnya air, karena merasakan betapa sengsaranya tidak ada air, karena air di kerannya tak mengalir. Sampai-sampai keluarganya harus minta air ke tetangga. Anak itu pun memutuskan untuk berhemat air, saat air sedikit atau pun melimpah. Ide itu didapat saat di rumah saya air tidak mengalir.

 

Buku Kebun Binatang 2158 mengisahkan kehidupan di masa depan, ketika banyak binatang sudah punah, sehingga anak-anak di masa itu hanya bisa melihat robot-robot di kebun binatang. Idenya timbul dari keprihatinan banyaknya  hewan-hewan yang terancam punah.

Kalau kita mendapat ide, sebaiknya cepat dicatat. Karena menurut pengalaman saya, kalau tak dicatat, ide-ide itu akan terlupakan. Memang, sampai saat ini saya tidak selalu mencatat ide-ide yang terlintas. Kalau itu terjadi, sayang sekali. Karena biasanya saya tidak bisa mengingat ide yang sama persis, dengan ide yang terlintas saat itu. Padahal bisa jadi ide itu sangat bagus.

Ada saatnya ide-ide bermunculan dengan mudah. Namun ada kalanya sama sekali tak ada ide untuk dijadikan cerita. Kalau ini terjadi carilah ide sampai dapat, jangan menunggu sang ide datang.

Bagaimana Saya Menulis Cerita Anak?

Keinginan yang kuat menulis. Itulah salah satu hal terpenting dalam menulis cerita anak. Tanpa keinginan yang kuat, sebuah cerita anak yang paling sederhana pun rasanya sulit terwujud. Mungkin kita bisa mengatakan, kita kekurangan waktu. Itu bisa jadi benar, tapi sebenarnya kalau menulis itu sebuah kebutuhan, menulis akan menjadi sebuah keharusan. Sehingga kita akan menyediakan waktu setidaknya setengah jam, satu jam, atau dua jam setiap harinya, khusus untuk menulis.

Nah, kita sudah mengharuskan diri kita menulis dan menyediakan waktu, kita bisa mencari ide dan tema untuk cerita kita. Atau membuka kembali buku catatan yang berisi ide-ide kita. Tulisalah hal-hal yang berarti untuk kita atau hal yang kita sukai. Lebih mudah kalau kita membuat kerangka cerita terlebih dahulu. Bagaimana alur ceritanya, siapa saja karakternya, bagaimana dan kapan setting ceritanya, bagaimana endingnya. Setelah kita mulai menulis dan terus menulis.

Usahakan, selesaikan dulu satu cerita, dan jangan berhenti. Tulislah cerita semenarik yang kita bisa. Setelah kita menyelesaikan sebuah cerita, tinggalkan. Simpanlah tulisan untuk beberapa hari, lalu baca lagi. Saat itu biasanya kita akan menemukan beberapa kesalahan, dan itulah saat untuk memperbaikinya. Setelah itu editlah tulisan sampai bagus.

Saya beri contoh tentang proses saya menulis cerita Lautan Susu Coklat. Ide cerita itu muncul ketika saya memikirkan susu coklat. Saya memang sangat suka rasa susu coklat. Saat itu terpikir oleh saya, apakah ada orang yang belum pernah meminum susu coklat, sehingga sangat ingin tahu bagaimana rasanya? Saya pikir, menarik juga menulis cerita seperti itu.

Setelah itu saya mencari tokoh untuk cerita saya. Setelah mencari-cari, akhirnya saya menemukan anak laki-laki bernama Tio yang berusia 8 tahun. Tio adalah salah seorang penghuni Panti Asuhan Kasih, milik Ibu Swasti yang penuh kasih.

Masalah dalam cerita ini adalah keinginan Tio untuk mengetahui rasa susu coklat. Tio menanyakan rasa susu coklat pada Ibu Swasti, tapi itu membuat Ibu Swasti sedih, karena ia tak mampu membelikan Tio susu coklat. Tio menanyakan rasa susu coklat pada teman-temannya, tapi teman-temannya malah menertawakan Tio. Mengapa? Karena susu coklat bukanlah hal yang asing buat mereka. Mereka meminumnya hampir setiap hari. Tio begitu ingin tahu rasa susu coklat, sampai-sampai  memimpikannya. Di akhir cerita, Tio mendapatkan apa yang diinginkannya.

Saya suka akhir cerita yang menyenangkan, karena itu memberi harapan. Memang, ending cerita tidak harus selalu menyenangkan. Tapi setidaknya melegakan atau memuaskan pembacanya.

Ada beberapa hal yang perlu diingat dalam penulisan cerita anak :

  • Kita memiliki sesuatu yang ingin disampaikan, misalnya pengetahuan, informasi, dan hiburan. Dalam menulis cerita, kita ingin menyisipkan pesan moral. Sangat baik kalau cerita tidak menggurui. Biarlah anak menyimpulkan sendiri cerita yang kita tulis.
  • Cara menyajikannya bagaimana? Tentu yang menarik lebih disukai.
  • Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang sederhana, jangan menggunakan kata-kata yang bersayap dahulu. Gunakan bahasa yang baik dan benar, tapi tetap ceria.
  • Karena anak-anak itu seperti gelas yang kosong. Kita ikut mengisi gelas itu. Yang mendidik anak adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat (termasuk kita media massa dan para penulis cerita anak). Karena pertanggungjawaban moral kita lebih besar, karena kita ikut mendidik.

 

Cerita Disimpan Sayang

Kalau kita sudah selesai menulis cerita, mau diapakan cerita itu? Disimpan? Bisa saja, tapi sayang, bukan? Membuat sebuah cerita adalah satu prestasi, karena kita sudah melalui berbagai rintangan. Rintangan melawan rasa malas sehingga kita mau menulis. Rintangan mencari ide yang menarik, lalu mengembangkannya dalam cerita sampai selesai. Alangkah baiknya kalau kita mengirim cerita itu ke majalah kalau itu berupa cerpen, atau ke penerbit kalau karya kita berupa buku.

Sebelum mengirim cerita, pelajari dulu media atau penerbit yang akan kita kirimi naskah. Apakah mereka memuat atau menerbitkan cerita anak? Jenis-jenis cerita anak seperti apa yang mereka muat atau terbitkan? Kita bisa membeli dan mempelajari majalah atau buku yang diterbitkan. Apakah cerita yang kita tulis sudah sesuai dengan misi majalah atau penerbit tersebut? Kalau sudah demikian, kita bisa mengirimnya.

Saat saya mengirim cerita ke majalah dulu, saya menyertakan surat pengantar pada editor, berisi permintaan untuk dikembalikan dan dikoreksi, apabila cerita saya tidak bisa dimuat. Saya juga sertakan perangko pengembalian. Setelah saya lebih mengenal para editornya, itu lebih menyenangkan karena saya bisa berdiskusi tentang cerita anak itu secara langsung.

Mengirim cerita anak pada penerbit pun tak jauh beda. Di surat pengantar, kita bisa menceritakan ringkasan ceritanya, ditujukan untuk usia berapa buku tersebut, dan usulan kita tentang bentuk bukunya.

Jadi mengirim cerita anak kepada majalah atau penerbit, bisa lewat pos. Namun kalau media anak atau penerbit itu satu kota dengan tempat tinggal kita, apa salahnya menyerahkannya langsung. Siapa tahu kita bisa berkenalan dengan editornya. Siapa tahu dari pertemuan itu kita bisa mendapat banyak masukan yang berguna dan mendapatkan kemungkinan-kemungkinan lain.

Saya rasa, ada banyak majalah yang bisa kita kirimi cerita anak. Di Gramedia Majalah saja ada Majalah Bobo, Mombi, Bona Kreatif, dan beberapa majalah yang akan terbit. Ada juga Kompas Anak yang terbit setiap hari Minggu, bersama koran Kompas. Belum lagi para penerbit yang sangat banyak jumlahnya. Namun kita harus sabar menunggu pemuatan, karena biasanya banyak sekali stok cerita yang siap muat. Mudah-mudahan saja media anak yang cukup banyak itu bisa menjadi ladang yang subur untuk melatih keterampilan kita dalam menulis cerita anak.

 

Oleh Renny Yaniar

Pernah disampaikan pada:

Diskusi dan Temu Wicara Penakom

Pentingnya Penulisan Karya untuk Anak

Sabtu, 14 Mei 2005

Gedung A Lt. 1 Depdiknas RI

Jl. Jenderal Sudirman, Senayan Jakarta

Sumber http://www.visikata.com/bagaimana-saya-menulis-cerita-anak/

Panduan Menulis Cerita Anak yang Lucu

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Menurut  Korrie Layun Rampan dalam bukunya Teknik Menulis Cerita Anak (Pinkbooks, 2003), cerita anak-anak adalah cerita sederhana yang kompleks. Kesederhanaan itu ditandai oleh syarat wacananya yang baku dan berkualitas tinggi, namun tidak ruwet, sehingga komunikatif.

Penulisan cerita anak tentu tidak bisa disamakan dengan cerita untuk orang dewasa. Tulisan yang baik haruslah dapat mengalihkan pola pikir orang dewasa kepada dunia anak-anak, sesuai dengan jiwa dan sifat anak-anak.

 

Bagian-bagian dari Cerita Anak

  • Alur

Alur yang biasa dipakai adalah alur kronologis yang menghubungkan satu kejadian dengan kejadian lainnya dalam priode tertentu. Atau alur cerita balik yang menceritakan peristiwa yang terjadi pada masa sebelumnya.

  • Tokoh

Penggambaran secara fisik atau kepribadian akan membantu pembaca mengenali tokoh yang dimaksud.

  • Tema

Tema sebaiknya mempunyai pesan yang tersamar, sehingga anak tidak
merasa digurui.

  • Gaya

Gaya penceritaan tidak bertele-tele, menarik, serta pemilihan kata disesuaikan dengan sasaran pembaca.

 

Tema yang Selalu Digemari

Dunia anak adalah dunia yang penuh suka cita. Tulisan yang memancing tawa akan selalu disenangi. Cerita humor, boleh jadi tidak menginspirasi atau tidak penting. Akan tetapi, penulisnya wajib menjamin tulisan itu benar-benar mampu mengundang senyum atau bahkan tawa segar pembaca ciliknya.

 

Tips Menulis Cerita Humor

Berikut ini adalah tips-tips yang dapat digunakan untuk menulis cerita anak humor, di antaranya adalah:

  • Ide bisa datang dari mana saja. Manfaatkanlah sumber kelucuan di sekeliling kita dengan baik.
  • Perluas pergaulan. Ide cerita bisa datang dari obrolan antarteman.
  • Bahan cerita lucu juga bisa kita peroleh dengan membaca. Cobalah ke toko buku dan beli beberapa buku yang berisi kumpulan humor atau cukup berselancar di dunia maya. Tapi, kita tidak boleh menjipaknya mentah-mentah. Tentu kita harus kreatif mengolahnya menjadi cerita baru.
  • Coba ingat-ingat kembali hal-hal yang tidak umum kita temui, bisa jadi itu dapat memancing tawa pembaca kita nantinya. Sesuatu yang bertolak belakang, ironi atau bahkan anti logika. Bukan pekerjaan mudah memang, asal kita cerdik menyiasatinya hal ini bisa dilakukan.
  • Hal-hal yang dibesar-besarkan (hiperbola) atau salah pengertian lewat permainan kata bisa menjadi ide tulisan. Tapi tetap harus sesuai logika cerita.
  • Karena sasaran pembaca adalah anak-anak, kita juga harus hati-hati.

Jangan sampai tulisan yang kita anggap lucu tadi justru mengandung guyonan kasar (slapstick) seperti menjadikan cacat fisik sebagai cemoohan atau mengeksploitasi seks secara vulgar.
(sumber http://www.anneahira.com/cerita-anak-949.htm )

Teknik Menulis Secara Umum

Ditulis oleh: Puji Arya Yanti

Seperti halnya proses produksi lainnya, menulis juga memerlukan teknik tertentu. Sehingga dapat menghasilkan tulisan yang baik, bermanfaat, dan enak dibaca. Teknik menulis jenis tulisan yang satu dengan lainnya itu berbeda. Berikut teknik menulis secara umum yang dapat dipakai untuk membuat sebuah tulisan.

  1. Menentukan Jenis Tulisan

Hal ini perlu dilakukan lebih dahulu karena akan berpengaruh pada hal-hal yang perlu diperhatikan selanjutnya dalam teknik menulis. Untuk menulis cerita anak, tentu tekniknya akan berbeda dengan menulis puisi, menulis renungan, atau menulis kesaksian.

  1. Memertimbangkan Pembaca

Ingatlah para pembaca Anda. Hal ini adalah salah satu metode agar tulisan Anda dibaca oleh pembaca. Berikan sesuatu yang mereka butuhkan, yang mendidik, memberi informasi, maupun yang menghibur mereka.

  1. Berorientasi pada Publikasi

Jangan lupakan yang satu ini. Selain memertimbangkan pembaca, berorientasi pada publikasi akan menolong Anda untuk menghasilkan tulisan yang bagus. Anda juga dapat mempelajari tulisan seperti apa yang diinginkan suatu media tertentu jika Anda tahu ke mana tulisan Anda akan dipublikasikan.

  1. Menentukan Tema dan Mencari Ide Tulisan

Dari tema yang sudah Anda tentukan, munculkan ide-ide yang baru dan menarik. Untuk menunjang ide-ide Anda, lakukan persiapan-persiapan bahan, bahkan riset sehingga tulisan Anda semakin akurat.

  1. Mengembangkan Ide

Jika tema dan ide sudah ditentukan, teknik selanjutnya adalah mengembangkannya. Ide tidak akan menjadi sebuah tulisan jika Anda tidak mengembangkannya. Kembangkan ide Anda dalam kalimat-kalimat sehingga dapat dipahami oleh pembaca.

  1. Memerhatikan Unsur-Unsur Tulisan

Dalam mengembangkan ide, perlu diperhatikan pula unsur-unsur tulisan. Pakailah kata dan kalimat yang efektif. Sehingga pembaca tidak akan bingung dengan pemaparan ide Anda. Namun, unsur tulisan ini juga perlu memerhatikan jenis tulisan yang akan Anda buat. Dalam menulis puisi, tentunya Anda tidak perlu bingung apakah kalimat Anda efektif atau tidak.

  1. Menciptakan Gaya Tulisan

Buatlah gaya Anda sendiri. Jangan meniru gaya tulisan orang lain. Hal ini memang tidak mudah bagi pemula, apalagi kalau Anda memunyai penulis yang Anda idolakan. Biasanya gaya menulis Anda akan terpengaruh olehnya. Namun jangan putus asa, dengan latihan terus-menerus, akhirnya Anda bisa menciptakan gaya Anda sendiri.

  1. Menguasai EyD

Meskipun ada seorang editor yang akan mengedit tulisan Anda, seorang penulis sebaiknya juga menguasai ejaan yang disempurnakan dengan baik. Bagaimana memakai tanda baca, memakai kata dan kalimat baku, menggunakan awalan maupun kata depan, dan lain sebagainya, lebih baik dikuasai karena hal tersebut akan menunjang tulisan Anda nantinya.

  1. Melakukan Swasunting

Editing bukan semata-mata tugas editor. Penulis yang baik juga melakukan tugas editing untuk tulisannya sendiri. Setelah Anda menyelesaikan tulisan Anda, lakukan swasunting untuk memerbaiki tata bahasa kalimat dalam tulisan Anda. Swasunting ini tidak hanya berlaku bagi pemula, semua penulis hendaknya melakukannya.

Kunci dari cara menulis di atas adalah berlatih menulis terus-menerus. Karena keterampilan menulis tidak dapat diperoleh secara instan, namun memerlukan latihan dan ketekunan yang akan mengantarkan Anda menjadi seorang penulis yang andal. Selamat menulis.

(http://pelitaku.sabda.org/teknik_menulis_secara_umum )

Apakah Anda Ingin Menjadi Pencerita?

Published April 16, 2011 by ruangparaperekacerita

Oleh Saeno M Abdi©

Disampaikan dalam pelatihan singkat

cara menulis/menyampaikan cerita

Untuk guru-guru TK di Bojonggede, Kabupaten Bogor

Diselenggarakan oleh TK Jerapah Kecil.

Perumahan Bukit Waringin

Selasa, 19 April 2011

(Anda ingin menjadi pencerita tapi susah memulainya? Bisa jadi masalahnya terletak pada bagaimana memulai sebuah cerita, gagasan apa yang harus disampaikan, dan (biasanya ini jarang dipikirkan: bagaimana menutup cerita yang Anda sampaikan.)

 Di luar berbagai persoalan teknis, mencari gagasan apalagi dalam waktu seketika kerap menjadi persoalan saat seseorang harus membuat atau menulis cerita. Kerap kita gelagapan, tidak tahu apa yang harus diceritakan. Apakah manusia memang tak pernah bisa membuat gagasan, apalagi secara seketika? Sepertinya, tidak! Coba saja ingat-ingat berapa kali Anda tiba-tiba terdesak oleh keadaan dan secara otomatis memproduksi gagasan. Katakanlah untuk ngeles dari cecaran seseorang atau untuk menyelamatkan keadaan.

Lalu, bagaimana kalau tiba-tiba Anda harus bercerita? Dari mana ide atau gagasan harus digali? Bagaimana membuat gagasan itu tak berhenti hanya sebagai gagasan, melainkan ‘menggelinding’ menjadi sebuah cerita yang runtut dan menarik siapa pun yang mendengarkan atau membaca cerita Anda?

Baiklah, untuk mencoba menjawab persoalan tersebut mari kita ikuti permainan berikut:

  • Di hadapan Anda ada selembar kertas putih dan sebuah pensil.
  • Lakukanlah sesuatu

Bisa diperkirakan bahwa Anda juga setiap orang akan melakukan sejumlah tindakan. Dan yang paling umum, tindakan tersebut adalah menulis atau menggambar dengan menggunakan pensil dan kertas.

Juga bisa diperkirakan gambar Anda atau orang lain akan beragam. Menggambar wajah atau pemandangan akan menjadi gambar yang paling sering muncul. Sementara tulisan akan sangat beragam kemungkinannya. Mulai dari manulis nama, alamat, kata, tanda baca atau sekadar garis, tanda ‘curek’ check list dan seterusnya. Bisa dipastikan yang melakukan aktivitas di luar menulis, menggambar atau mencoret hanyalah sedikit, atau jangan-jangan tak ada sama sekali!

Apakah tak ada kemungkinan lain yang bisa dilakukan? Sebetulnya, banyak! Lalu, mengapa kemungkinan yang banyak itu bisa tidak muncul dan dikalahkan oleh hal-hal yang lumrah terjadi? Jawabannya: karena kita terlalu tersita, terpatok, terikat pada hal-hal yang biasa terjadi. Sehingga gagasan-gagasan di luar kebiasaan yang sebetulnya banyak itu tidak bisa muncul keluar dan menjadi sebuah gagasan yang orisinal, cerdas, dan di luar pakem kebiasaan.

Di mana sebetulnya letak ide atau gagasan-gagasan yang berbeda dari kebiasaan? Tuhan menghidangkan banyak tanda untuk manusia. Jika dalam kitab suci ada ayat-ayat, maka dalam kehidupan pun tersedia berbagai ayat-ayat kauniyah yang disampaikan atau barangkali disampirkan Tuhan. Pernah melihat pohon bambu membungkuk di kala subuh? Sempatkah memperhatikan ke arah mana rumput merunduk saat tertimpa embun? Mengapa batang pohon memiliki kambium? Dan banyak lagi. Semua itu merupakan fenomena yang bisa menjadi sumber bagi kita membangun gagasan. Bahkan, sebuah kancing baju yang copot lalu jatuh ke tanah pun bisa menjadi gagasan menarik tentang gaya tarik bumi. Selain itu, Anda, juga kita, bisa menceritakan penyebab benang pengikat mengendur, dan membuat sang kancing terlepas dari baju lalu jatuh ke lantai. Dan, itu semua bisa dikembangkan.

Begitulah, hal-hal kecil tapi luar biasa bisa membuat kita menjadi pencerita yang atraktif dan membuat pendengar/pembaca cerita kita menjadi terhanyut.

Mengapa sebuah cerita bisa menghanyutkan? Ingat, biasanya yang menghanyutkan adalah aliran air: misalnya aliran air sungai atau laut, atau juga aliran air hujan yang merambat dari sebuah pohon tinggi lalu merambat di atas genting dan kemudian menjadi aliran deras di dalam talang yang menghunjam ke atas permukaan tanah. Maka, jadikanlah gagasan Anda awalan untuk menyusun/menyampaikan cerita yang mengalir. Buatlah alur, gaya (pilihan cara penulisan dalam cerita tertulis), tekanan  intonasi (dalam cerita bertutur) menjadi semenarik mungkin. Pukau pembaca/pendengar dengan cara Anda menyampaikan cerita. Apakah itu susah? Semestinya tidak.

Mari kita berlatih:

Katakan “Ada ular.” dengan cara membaca secara datar.

Sekarang katakan kalimat yang sama dengan pemenggalan dan pengaturan intonasi serta embusan napas. Misalnya: Ada/ ular….(dengan suara semakin lama kian  berbisik, atau sambil berteriak).

Bagaimana jika ditambah dengan gerak tubuh dan mimik muka? Efeknya akan lain bukan dibandingkan dengan cara bertutur datar tanpa jiwa.

Bagaimana dalam bahasa tulis?

Bandingkan dua kalimat berikut

Ada ular.

Ada ular…

Atau bandingkan dengan

Ada ulaaarrr!

Hasilnya berbeda pula bukan. Terlebih jika ditambah keterangan tentang bagaiman si tokoh berkata, bagaimana gerak tubuhnya dan bagaimana pula ekspresi wajahnya.

Selebihnya, lanjutkan setiap kata yang Anda tulis/katakan dengan kata lain sehingga menjadi susunan kalimat yang runtut. Jangan lupa bumbu dramatisasi dan penguat latar cerita.

Apakah jika semua persyaratan seperti tersirat di atas terpenuhi maka sebuah cerita bisa terhidang baik dan bisa langsung dicerna? Bisa jadi iya, juga bisa jadi tidak.

Pada dasarnya, bercerita adalah berkomunikasi. Dalam berkomunikasi, selalu ada pesan yang disampaikan. Nah, apakah cerita yang Anda buat memiliki pesan tertentu? Semoga jawabannya bukan “tidaaak….” Sebab, dalam perspektif komunikasi, apa yang disebut alur, penokohan, seting dll dalam sebuah cerita tak lain sebagai teknik kemasan. Pesan disampaikan dalam bentuk cerita yang dirangkai berdasar teknik-teknik yang disebutkan di atas.

Pemahaman akan pesan apa yang akan disampaikan, sebetulnya akan menjadi salah satu cara bagi kita memudahkan membuat/menulis sebuah cerita. Maka rencanakanlah pesan yang ingin Anda sampaikan. Perkara apakah pesan tersebut akan disampaikan secara eksplisit atau implisit, pada awal atau tengah atau pada akhir cerita, lagi-lagi itu hanyalah persoalan teknis. Seperti bagaima sebuah cerita diakhir: apakah dengan ending kejutan, ending yang menyenangkan, menyedihkan, memberikan pertanyaan atau yang lainnya.

Pendeknya, temukanlah gagasan, formulasikan pesan yang ingin disampaikan, dan mulailah bercerita.

Selanjutnya, mari lakukan permainan berikut:

  • Siapkah 24 halaman kertas kosong
  • Bayangkan Anda akan membuat cerita dan tentukan pesan yang ingin Anda sampaikan
  • Tentukan tokoh untuk cerita Anda. Bisa manusia, hewan, tumbuhan, hujan, awan, angin atau yang lain.
  • Bayangkan watak dari tokoh dalam cerita Anda.
  • Tambahkan pula hal-hal lain yang Anda rasa perlu.
  • Mari kita mulai
  • Tulislah satu kata di halaman pertama
  • Lanjutkan dengan kata lain
  • Pastikah kata-kata itu menjadi rangkaian kalimat yang bercerita.
  • Buatlah kalimat menjadi satu paragraf
  • lanjutkan cara yang sama pada halaman berikutnya hingga halaman ke 24.
  • Setelah selesai baca kembali tulisan Anda.
    • Apakah terbangun sebuah cerita?
    • Sudahkah cerita itu memiliki keterkaitan antara halaman 1 sampai 24?
  • Adakah rangkaian tulisan Anda memiliki jiwa?
  • Sudahkah pesan yang ingin disampaikan terbaca pada tulisan Anda?

Jika jawabannya adalah “iya”, maka Anda paling tidak sudah bisa membuat sebuah cerita ringkas untuk 24 halaman dengan masing-masing halaman terdiri dari satu paragraf.

Selanjutnya, anda boleh membayangkan [bahkan kalau bisa: menggambarkan] ilustrasi dari setiap paragraf cerita yang Anda susun. Bila Anda merasa tak terlalu mahir menggambar tapi ingin membuat draft kasar atau sekadar oret-oretan ilustrasi silakan saja Anda buat. Paling tidak itu akan menjadi bahan untuk diskusi dengan ilustrator bagi cerita Anda.

Sekarang, boleh jadi Anda terpukau melihat kemampuan Anda sendiri membuat cerita dan bahkan membuatkan [rencana] ilustrasinya.

Begitulah, sebetulnya, setiap orang mampu membuat cerita dengan tingkat kemahirannya masing-masing. Termasuk Anda, bukan?

Kalau begitu, selamat dan…..

Salam,

sae


© Saeno M Abdi adalah alumnus Jurusan Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. Kini, selain menjadi managing editor di sebuah majalah juga memiliki Private & Communications Consulting.

Beberapa karya nonjurnalistik pernah dimuat di beberapa surat kabar. Sementara 3 buku cerita anak karyanya JALU, AYAM CONGKAK YANG BODOH; PUTRI PATAH KAKI DAN RAJA ALPA serta LIU, GAJAH KECIL YANG PANIK diterbitkan PT  Ganeca Exact.

Kontak : e-mail : saeabdi@gmail.com