Apakah Anda Ingin Menjadi Pencerita?

Published April 16, 2011 by ruangparaperekacerita

Oleh Saeno M Abdi©

Disampaikan dalam pelatihan singkat

cara menulis/menyampaikan cerita

Untuk guru-guru TK di Bojonggede, Kabupaten Bogor

Diselenggarakan oleh TK Jerapah Kecil.

Perumahan Bukit Waringin

Selasa, 19 April 2011

(Anda ingin menjadi pencerita tapi susah memulainya? Bisa jadi masalahnya terletak pada bagaimana memulai sebuah cerita, gagasan apa yang harus disampaikan, dan (biasanya ini jarang dipikirkan: bagaimana menutup cerita yang Anda sampaikan.)

 Di luar berbagai persoalan teknis, mencari gagasan apalagi dalam waktu seketika kerap menjadi persoalan saat seseorang harus membuat atau menulis cerita. Kerap kita gelagapan, tidak tahu apa yang harus diceritakan. Apakah manusia memang tak pernah bisa membuat gagasan, apalagi secara seketika? Sepertinya, tidak! Coba saja ingat-ingat berapa kali Anda tiba-tiba terdesak oleh keadaan dan secara otomatis memproduksi gagasan. Katakanlah untuk ngeles dari cecaran seseorang atau untuk menyelamatkan keadaan.

Lalu, bagaimana kalau tiba-tiba Anda harus bercerita? Dari mana ide atau gagasan harus digali? Bagaimana membuat gagasan itu tak berhenti hanya sebagai gagasan, melainkan ‘menggelinding’ menjadi sebuah cerita yang runtut dan menarik siapa pun yang mendengarkan atau membaca cerita Anda?

Baiklah, untuk mencoba menjawab persoalan tersebut mari kita ikuti permainan berikut:

  • Di hadapan Anda ada selembar kertas putih dan sebuah pensil.
  • Lakukanlah sesuatu

Bisa diperkirakan bahwa Anda juga setiap orang akan melakukan sejumlah tindakan. Dan yang paling umum, tindakan tersebut adalah menulis atau menggambar dengan menggunakan pensil dan kertas.

Juga bisa diperkirakan gambar Anda atau orang lain akan beragam. Menggambar wajah atau pemandangan akan menjadi gambar yang paling sering muncul. Sementara tulisan akan sangat beragam kemungkinannya. Mulai dari manulis nama, alamat, kata, tanda baca atau sekadar garis, tanda ‘curek’ check list dan seterusnya. Bisa dipastikan yang melakukan aktivitas di luar menulis, menggambar atau mencoret hanyalah sedikit, atau jangan-jangan tak ada sama sekali!

Apakah tak ada kemungkinan lain yang bisa dilakukan? Sebetulnya, banyak! Lalu, mengapa kemungkinan yang banyak itu bisa tidak muncul dan dikalahkan oleh hal-hal yang lumrah terjadi? Jawabannya: karena kita terlalu tersita, terpatok, terikat pada hal-hal yang biasa terjadi. Sehingga gagasan-gagasan di luar kebiasaan yang sebetulnya banyak itu tidak bisa muncul keluar dan menjadi sebuah gagasan yang orisinal, cerdas, dan di luar pakem kebiasaan.

Di mana sebetulnya letak ide atau gagasan-gagasan yang berbeda dari kebiasaan? Tuhan menghidangkan banyak tanda untuk manusia. Jika dalam kitab suci ada ayat-ayat, maka dalam kehidupan pun tersedia berbagai ayat-ayat kauniyah yang disampaikan atau barangkali disampirkan Tuhan. Pernah melihat pohon bambu membungkuk di kala subuh? Sempatkah memperhatikan ke arah mana rumput merunduk saat tertimpa embun? Mengapa batang pohon memiliki kambium? Dan banyak lagi. Semua itu merupakan fenomena yang bisa menjadi sumber bagi kita membangun gagasan. Bahkan, sebuah kancing baju yang copot lalu jatuh ke tanah pun bisa menjadi gagasan menarik tentang gaya tarik bumi. Selain itu, Anda, juga kita, bisa menceritakan penyebab benang pengikat mengendur, dan membuat sang kancing terlepas dari baju lalu jatuh ke lantai. Dan, itu semua bisa dikembangkan.

Begitulah, hal-hal kecil tapi luar biasa bisa membuat kita menjadi pencerita yang atraktif dan membuat pendengar/pembaca cerita kita menjadi terhanyut.

Mengapa sebuah cerita bisa menghanyutkan? Ingat, biasanya yang menghanyutkan adalah aliran air: misalnya aliran air sungai atau laut, atau juga aliran air hujan yang merambat dari sebuah pohon tinggi lalu merambat di atas genting dan kemudian menjadi aliran deras di dalam talang yang menghunjam ke atas permukaan tanah. Maka, jadikanlah gagasan Anda awalan untuk menyusun/menyampaikan cerita yang mengalir. Buatlah alur, gaya (pilihan cara penulisan dalam cerita tertulis), tekanan  intonasi (dalam cerita bertutur) menjadi semenarik mungkin. Pukau pembaca/pendengar dengan cara Anda menyampaikan cerita. Apakah itu susah? Semestinya tidak.

Mari kita berlatih:

Katakan “Ada ular.” dengan cara membaca secara datar.

Sekarang katakan kalimat yang sama dengan pemenggalan dan pengaturan intonasi serta embusan napas. Misalnya: Ada/ ular….(dengan suara semakin lama kian  berbisik, atau sambil berteriak).

Bagaimana jika ditambah dengan gerak tubuh dan mimik muka? Efeknya akan lain bukan dibandingkan dengan cara bertutur datar tanpa jiwa.

Bagaimana dalam bahasa tulis?

Bandingkan dua kalimat berikut

Ada ular.

Ada ular…

Atau bandingkan dengan

Ada ulaaarrr!

Hasilnya berbeda pula bukan. Terlebih jika ditambah keterangan tentang bagaiman si tokoh berkata, bagaimana gerak tubuhnya dan bagaimana pula ekspresi wajahnya.

Selebihnya, lanjutkan setiap kata yang Anda tulis/katakan dengan kata lain sehingga menjadi susunan kalimat yang runtut. Jangan lupa bumbu dramatisasi dan penguat latar cerita.

Apakah jika semua persyaratan seperti tersirat di atas terpenuhi maka sebuah cerita bisa terhidang baik dan bisa langsung dicerna? Bisa jadi iya, juga bisa jadi tidak.

Pada dasarnya, bercerita adalah berkomunikasi. Dalam berkomunikasi, selalu ada pesan yang disampaikan. Nah, apakah cerita yang Anda buat memiliki pesan tertentu? Semoga jawabannya bukan “tidaaak….” Sebab, dalam perspektif komunikasi, apa yang disebut alur, penokohan, seting dll dalam sebuah cerita tak lain sebagai teknik kemasan. Pesan disampaikan dalam bentuk cerita yang dirangkai berdasar teknik-teknik yang disebutkan di atas.

Pemahaman akan pesan apa yang akan disampaikan, sebetulnya akan menjadi salah satu cara bagi kita memudahkan membuat/menulis sebuah cerita. Maka rencanakanlah pesan yang ingin Anda sampaikan. Perkara apakah pesan tersebut akan disampaikan secara eksplisit atau implisit, pada awal atau tengah atau pada akhir cerita, lagi-lagi itu hanyalah persoalan teknis. Seperti bagaima sebuah cerita diakhir: apakah dengan ending kejutan, ending yang menyenangkan, menyedihkan, memberikan pertanyaan atau yang lainnya.

Pendeknya, temukanlah gagasan, formulasikan pesan yang ingin disampaikan, dan mulailah bercerita.

Selanjutnya, mari lakukan permainan berikut:

  • Siapkah 24 halaman kertas kosong
  • Bayangkan Anda akan membuat cerita dan tentukan pesan yang ingin Anda sampaikan
  • Tentukan tokoh untuk cerita Anda. Bisa manusia, hewan, tumbuhan, hujan, awan, angin atau yang lain.
  • Bayangkan watak dari tokoh dalam cerita Anda.
  • Tambahkan pula hal-hal lain yang Anda rasa perlu.
  • Mari kita mulai
  • Tulislah satu kata di halaman pertama
  • Lanjutkan dengan kata lain
  • Pastikah kata-kata itu menjadi rangkaian kalimat yang bercerita.
  • Buatlah kalimat menjadi satu paragraf
  • lanjutkan cara yang sama pada halaman berikutnya hingga halaman ke 24.
  • Setelah selesai baca kembali tulisan Anda.
    • Apakah terbangun sebuah cerita?
    • Sudahkah cerita itu memiliki keterkaitan antara halaman 1 sampai 24?
  • Adakah rangkaian tulisan Anda memiliki jiwa?
  • Sudahkah pesan yang ingin disampaikan terbaca pada tulisan Anda?

Jika jawabannya adalah “iya”, maka Anda paling tidak sudah bisa membuat sebuah cerita ringkas untuk 24 halaman dengan masing-masing halaman terdiri dari satu paragraf.

Selanjutnya, anda boleh membayangkan [bahkan kalau bisa: menggambarkan] ilustrasi dari setiap paragraf cerita yang Anda susun. Bila Anda merasa tak terlalu mahir menggambar tapi ingin membuat draft kasar atau sekadar oret-oretan ilustrasi silakan saja Anda buat. Paling tidak itu akan menjadi bahan untuk diskusi dengan ilustrator bagi cerita Anda.

Sekarang, boleh jadi Anda terpukau melihat kemampuan Anda sendiri membuat cerita dan bahkan membuatkan [rencana] ilustrasinya.

Begitulah, sebetulnya, setiap orang mampu membuat cerita dengan tingkat kemahirannya masing-masing. Termasuk Anda, bukan?

Kalau begitu, selamat dan…..

Salam,

sae


© Saeno M Abdi adalah alumnus Jurusan Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. Kini, selain menjadi managing editor di sebuah majalah juga memiliki Private & Communications Consulting.

Beberapa karya nonjurnalistik pernah dimuat di beberapa surat kabar. Sementara 3 buku cerita anak karyanya JALU, AYAM CONGKAK YANG BODOH; PUTRI PATAH KAKI DAN RAJA ALPA serta LIU, GAJAH KECIL YANG PANIK diterbitkan PT  Ganeca Exact.

Kontak : e-mail : saeabdi@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: